Kami baru saja meninggalkan kedai kopi sejauh 50 meter, ketika hangatnya matahari sore masuk ruang pandang kami. Aku tersenyum tenang sambil memejamkan mata. Selalu suka hangat matahari jam 4 – 5 sore. Hangat yang selalu bisa menerbitkan senyum. Lamat-lamat terdengar suara Tulus. Memenuhi ruang dengar kami. Memenuhi indra kami. Langit Abu-abu. Aku suka lagu-lagu Tulus. Monokrom, Sewindu, Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Gajah, Manusia Kuat, Ruang Sendiri, 1000 Tahun. Rasa-rasanya bukan hanya lagunya, suara Tulus juga. Aku suka suara Tulus, apa pun lagu yang dinyanyikan. Suaranya seolah membawa aku ke tempat yang berbeda, berkelana ke pengalaman berbeda. Mobil membelok ke kanan, menyusuri jalan raya yang dipenuhi kesibukan sore di suatu Minggu yang cerah. Matahari sore ada di belakang kami, kini. Hangat merayap di punggung kami. Suara Tulus membuai kami. Cerahnya langit yang birunya lebih biru dari biasanya, awan awan yang bergerak dari tepian, udara yang bersahaja dan kami yang tetap ...
Tur kedai kopi, tentang kopi, camilan kedai kopi, signature coffee, buku dan kopi