Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Puisi | Gudang yang Penuh Debu dan Sarang Laba-laba

  Ada ruang yang tak hampa yang jarang disinggahi. Ruang yang sengaja disiapkan.   Ada ruang yang buram yang jarang dimampiri. Ruang yang sengaja disisihkan.   Namun… segalanya menjadi asing tanpa ruang yang satu ini. segalanya menjadi tak lengkap tanpa ruang yang satu ini. segalanya menjadi tak biasa tanpa ruang yang satu ini.   Serupa gudang bagi setiap rumah… Ada saja pribadi yang menjadi gudang bagi yang lainnya.   Berada di sudut yang tidak ingin di datangi, gudang yang penuh debu dan sarang laba-laba. Ada namun diasingkan. Hanya diakui jika dibutuhkan.   Gedung yang penuh debu dan sarang laba-laba… tempat barang-barang bekas yang tidak ingin dibuang. tempat banyak kenangan manis yang ingin selalu dikenang. tempat hadiah-hadiah kecil dan surat cinta dikumpulkan. tempat luka dan kesedihan acap diabaikan.   Gudang yang penuh debu dan sarang laba-laba, jadi alasan untuk tetap berada di sana. bag...

Puisi | Di antara Ilalang-ilalang Padang

  Di antara ilalang-ilalang tinggi, kita berdiri. Menatap langit yang dipenuhi burung-burung berkunjung. Ingin ku yakinkan hatimu, ke hidupmulah aku pulang.   Di antara ilalang-ilalang tinggi yang memerangkap angin. Menerbangkan harap dan angan bersama berkas-berkas cahaya menerobos Ingin ku yakinkan hatimu, kepadamu rinduku selalu tertuju.   Di antara ilalang-ilalang coklat berteman panas dan hujan yang mengawal musim-musim berganti tanpa enggan, tanpa ragu, Ku ingin meyakinkanmu, tak satupun musim kehidupanmu yang terlupakan.   Di antara jerami ilalang yang berserakan di bawah kaki kita, dan angin dingin yang menemani musim berganti, juga jejak cahaya senja yang melewati jemari kita yang bertaut, akan menjadi teman ingatan kita kelak, ketika diantara ilalang-ilalang padang hati kita terpaut.   *** Catatan dari kotaku       Had posted on Kompasiana

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Masa-masa yang Terhenti

  Bertambah tua tidak sesulit masa muda Berlalunya sekejap… …dan waktu menjauh tertinggal di belakang.   Terlalu cepat, sehingga kita tanpa sadar terus menoleh. Seperti terburu-buru, sehingga tanpa sadar kita jarang berhenti.. Seolah tak beranjak, sehingga menunda menjadi semakin mudah. Sampai… …masa pun terhenti.   Apakah kau beruntung? Kau tak menua. Tahun yang kau telah jalani sama seperti tahun yang sudah kutempuh. Tahun yang selesai kau telusuri sama seperti jumlah tahun di belakangku kini. Apakah kau beruntung di hidupmu yang telah terhenti, kini?   Apakah kau beruntung? Kau tak beranjak tua. Tahun yang kau telah jalani sama seperti tahun yang sudah kutempuh. Tahun yang selesai kau telusuri sama seperti jumlah tahun di belakangku kini. Apakah kau beruntung di hidupmu yang telah terhenti, kini?   Masa-masa yang telah terhenti, Musim-musim yang tak lagi kau lewati, jalani, lalui. Waktu telah berhenti untukmu,...

Puisi | Kisah Cinta Petang nan Jingga Jelita

    Dokpri. Jingga, koq, bisa memikat begini? Dalam sapuan ungu, lembayung, merah muda dan oranye sepanjang cakrawala, jingga berbaris anggun.   Batas cakrawala di ujung dunia, di sebelah sini ada garis lain sepanjang pantai. Ada yang bisa membatasi gerak ombak?   Tembok-tembok tua itu, tidak bisa menakut-nakuti birunya perairan di sebelahnya. Jalanan bisu itu, memisahkan sejoli air. Bebatuan di permukaan bumi pun memiliki banyak gradasi. Sapuan warna dalam corak dan bentuk. Biru, biru muda, biru tua, biru kehijauan, hijau kebiruan, toska, hijau, hijau muda. Satu potret untuk riuhnya paduan gradasi biru dan hijau.   Pinus ditemani debu berawan. Cahaya yang seolah mengambang di permukaan dedaunan hijau muda membias di permukaan batang pepohonan yang berwarna kelabu dan coklat tanah kasar. Pasir gurun memantulkan sore jingga pada langit petang.   Dan semua itu datang ketika siang memudar dan meninggalkan sore, senja dan pe...