Jingga, koq, bisa memikat begini?
Dalam sapuan ungu, lembayung, merah muda dan oranye sepanjang cakrawala, jingga berbaris anggun.
Batas cakrawala di ujung dunia,
di sebelah sini ada garis lain sepanjang pantai.
Ada yang bisa membatasi gerak ombak?
Tembok-tembok tua itu, tidak bisa menakut-nakuti birunya perairan di sebelahnya.
Jalanan bisu itu, memisahkan sejoli air.
Bebatuan di permukaan bumi pun memiliki banyak gradasi.
Sapuan warna dalam corak dan bentuk.
Biru, biru muda, biru tua, biru kehijauan, hijau kebiruan, toska, hijau, hijau muda. Satu potret untuk riuhnya paduan gradasi biru dan hijau.
Pinus ditemani debu berawan. Cahaya yang seolah mengambang di permukaan dedaunan hijau muda membias di permukaan batang pepohonan yang berwarna kelabu dan coklat tanah kasar.
Pasir gurun memantulkan sore jingga pada langit petang.
Dan semua itu datang ketika siang memudar dan meninggalkan sore, senja dan petang dengan semua hal eksotis yang terpatri di langit. Hal-hal yang menawan, namun mudah terlihat.
Kata dan diksi dalam kalimat yang terbenam dalam asa berwarna yang tak ingin pudar.
Kalimat-kalimat yang menenggelamkan rasa pada aksara-aksara yang mengalun bersama peradaban dan cinta…
..yang bersisian bersama musim dan kesulitan.
***
It had posted:
https://www.kompasiana.com/nev_sihombing/623dfe90ba21bc307e3f9572/puisi-kisah-cinta-petang-nan-jingga-jelita
Komentar
Posting Komentar