Langsung ke konten utama

Buku #5 - Dover

Dover (dokpri.)

Penulis:  Gustaaf Peek (2008)
Hal: 256 halaman
Penterjemah: Gabriella Felicia, Maria Leisa Adelia, Meggy Soedjatmiko, Miranda Sapardan, Sri Zuliati, Tyas DM, Vini Widianingsih, Widjajanti Dharmowijono, Zahroh Nuriah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2015

Meninggalkan Tanah Kelahiran demi Rumah untuk Menetap
Dover adalah buku yang berkisah tentang perjalanan orang-orang yang meninggalkan tanah kelahiran entah karena konflik horizontal ataupun demi hidup yang lebih layak.

Marlon, karena kerusuhan 1998, meninggalkan rumahnya, keluarganya dan kehidupannya di Indonesia demi menyelamatkan diri. Ketika tiket pesawat tujuan Amerika dan Inggris menjadi pilihan, Marlon (hanya) dengan berbekal paspor, baju di badan dan buku-buku tebal baru beli di bandara memilih Rotterdam sebagai kota tujuan. 

Hidup sebagai Tony yang bekerja di salah satu restoran makanan Cina milik Mr. Chow, Marlon menjalani hidupnya dengan sangat sederhana dan hubungan pertemanan yang minimalis sambil menikmati hobi menonton film yang dimilikinya sejak kanak-kanak.

Georges Sidibe meninggalkan salah satu kota di Afrika setelah membunuh seseorang. Bermimpi menjalani hidup di Paris, menabung upahnya sebagai loper koran di Rotterdam dan hidup sebagai pria gelisah bernama Bas. Bas tinggal di sebuah kamar kecil apartemen dengan para penghuni hanya saling bertegur sapa sesekali. Bas dan Tony menikmati teh bersama dengan minim percakapan.

Bernard, seorang pengacara bagi para pencari suaka, menemukan Aylin, seorang perempuan muda dalam keadaan mengandung yang meninggalkan rumahnya demi mencari kekasihnya. Aylin sudah jauh meninggalkan kotanya di Eropa Timur, ketika menyadari kekasih meninggalkannya. Aylin ditemukan orang-orang yang terlibat jaringan prostitusi lintas Negara.

Tony bertemu Bernard dan Aylin untuk pertama kalinya ketika Mr. Chow memintanya menjadi supir untuk beberapa orang yang hendak diselamatkan Bernard. Tony menyadari bahwa Mr. Chow memiliki jaringan yang bisa memasukkan dan atau mengeluarkan seseorang dari dan ke Rotterdam dengan perongkosan yang sangat menggiurkan. Suatu hari, Tony mendapatkan tawaran dari Mr. Chow untuk membuka cabang restoran makanan Cina miliknya di Inggris.

Juni 2000, ketika datang kesempatan untuk mendapatkan kebebasan di negeri yang baru, sebanyak 60 orang nekad masuk peti kemas yang akan ikut berlayar dari Rotterdam ke Dover, Inggris. Setelah berjam-jam perjalanan, hanya 2 yang selamat!

Apakah Tony tiba dengan selamat di Dover, Inggris? Bagaimana nasib Bernard dan Aylin? Apakah Bas berhasil mewujudkan mimpinya untuk tinggal dan hidup di Paris?

***

Gustav Peek mempersatukan kisah hidup beberapa orang -baik secara paralel maupun secara bersilangan mempertemukan mereka- yang hidupnya saling melintasi namun dengan akhir kehidupan saling menjauh. 

Penulis menggambarkan terbangunnya beberapa hubungan yang dimulai dari berpandang-pandangan dalam waktu yang panjang dan lama sampai ke hubungan yang saling menjaga karena menjadi (telah) orang asing di negeri yang asing pula. 

Peek juga menggunakan frasa-frasa singkat yang mampu memberikan efek yang luar biasa pada keadaan yang hendak dijelaskan pada pembaca, seperti: Ia minum. Kebanggaan getir. Lalulintas padat. Ia bebas. Sebuah kafe. Bersulang. Tiba. Selamat datang. Aplaus singkat. Dunia putih. Cinta. Ia sendirian. Ia berpakaian. Udarapanas. Rumah.

Frasa-frasa pendek dan singkat ini makin mempertegas perasaan yang hendak disampaikan penulis pada para pembaca. Tentang keresahan tidak diterima di rumah sendiri, tentang kekhawatiran tidak bisa melihat hari esok disebabkan konflik berdarah perang saudara, tentang mimpi adanya damai dan sejahtera di negeri sendiri.  

Faktanya, sampai sekarang masih banyak Negara yang mengusir penduduknya sendiri dengan beragam konflik dan ketidaksejahteraan dalam negeri. 

Ada begitu banyak pencari suaka yang menempuh perjalanan jauh, yang kadang abai dengan keselamatan nyawa sendiri, meninggalkan negeri mereka demi aman di negeri yang baru. Masih banyak. (RS)

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...