Langsung ke konten utama

Mencicipi Citarasa Dhilgee Nansebo Riripa

Dhilgee Nansebo Riripa (Dokpri.)

Kemaren, aku mampir ke sebuah kedai kopi yang bernuansa abu-abu.Tidak seperti kedai kopi lain yang memberikan ruang bagi pengunjung yang merokok di ruangan lebih depan atau out-door kedai kopi tersebut. Kedai kopi ini, menyediakan ruangan bagi perokok justru di bagian dalam ruangan. 

Dibatasi dengan kaca, pengunjung di bagian depan kedai bisa melihat ke arah dalam. Demikian juga sebaliknya. Dinding dan pintu kaca sampai ke langit-langit memberikan kesan dan nuansa lega bagi ruangan. Di salah satu sisi dinding, terdapat kaca persegi panjang yang diposisikan sedikit di atas bangku yang menempel pada dinding tersebut. Di dinding satu lagi, terlihat sebuah cermin bulat. Ke mana pun memandang, selain terlihat pengunjung lain, terlihat juga diri sendiri. Hehehe...

Ada beberapa set meja dan kursi di tengah ruangan. Ada juga set meja dan kursi (atau sofa, ya, penyebutannya?) di tepi-tepi ruangan.Dindingnya berwarna abu-abu muda. Ada kesan futuristik. Dan terasa sangat nyaman.

Setelah melihat buku menu, aku memesan kopi. Hanya mo minum kopi, tapi lihat menunya sampai lembar terakhir. Hahahahaha...Foto-fotonya kewreeen, seh... 😉


Dhilgee Nansebo Riripa

Asal dari Etiopia. Bijih kopi asal Afrika menghasilkan citarasa pahit yang sanggup menempelak jantung, sehingga ketukannya lebih cepat dibandingkan debar-debar jatuh cinta.. hehehe..

Baru tahu, ternyata yang satu ini bercitarasa asam.😋

Menelannya enak. Citarasa asam terasa di langit-langit mulut di bagian belakang yang mendekati tenggorokan. Menjelang menelan di tegukan pertama terasa citarasa manis diantara rasa asam. Manis dalam gabungan citarasa bebuahan dan bebungaan di aroma pun rasa di lidah. Ada rasa asamnya citrus di dalam kopi. 

***

Menjelang pulang, aku ditanya baristanya bagaimana rasa kopi yang kupesan. Aku bilang, citarasanya asam. Aku lebih suka kopi citarasa pahit dibandingkan citarasa asam. hehehe..

Aku kasihtahu kalau aku menuliskan pengalamanku meminum kopi yang satu ini di selembar kertas ukuran kecil yang aku sobek dari notes yang selalu aku bawa. Salah satu baristanya, mengambil catatan tersebut dan menyimpannya.

Kemudian, perbincangan berlanjut.

"Saya lebih sanggup kopi dengan citarasa pahit dibandingkan kopi citarasa asam."

Lalu, dalam hati aku tambahkan. "Karena aku belum cukup merasakan asam dan garamnya kehidupan. Namun, pahitnya hidup ada cukup banyak untuk dikisahkan. Eaaaaaa.." Hahahahahahaha... 

Setelah berjanji akan mampir lagi dan mencicipi bean asal Afrika yang citarasa pahit, aku pulang. Ojek sudah nunggu di depan kedai, yang menggunakan bangunan rumah sebagai coffee shop. Ojek online, yang akan mengantarkan aku ke kedai kopi selanjutnya. (RS)

*** 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Buku #8 - Life Traveler: Catatan Perjalanan Pencinta Petualangan

    Life Traveler Perjalanan Pencinta Petualangan Life Traveler adalah catatan perjalanan Windy Ariestanty yang mengunjungi beberapa kota di beberapa Negara. Tentang budayanya, tentang orang-orangnya, tentang teman-teman seperjalanan, juga tentang makna “pulang” ketika sedang dalam perjalanan dan citarasa pulang ketika berada sangat jauh dari rumah.     Dengan 381 halaman, Windy memanjakan pembaca Life Traveler dengan foto-foto; penjelasan detail keadaan tempatnya berkunjung dan cuaca; ilustrasi-ilustrasi sapuan cat air yang terlihat berwarna sangat pastel; traveler’s facts, tips, notes and infos. Yang berencana melakukan perjalanan atau menjadi ingin mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang telah dijalani Windy, pastilah membutuhkan semua info tersebut. 😃 Pada buku terbitan Gagas Media dan diterbitkan tahun 2011 dibagi menjadi 18 bab dan 2 kisah tambahan dari 2 sahabat Windy; Windy mengisahkan tentang perjalanan dan menjalani kota-kota di Viet Nam...