Langsung ke konten utama

Coffee Style


Coffee Style

Turun dari setasiun LRT Cinde, langsung ketemu Coffee Style. Salah satu kedai kopi yang terdekat dari sejumlah setasiun LRT di kota ini. Begaye banget, emang.. 😄

Lantai dari stasiun LRT Cinde

Menggunakan ruko 2 lantai, kedai kopi yang dibagi menjadi beberapa ruang menggunakan sekat kaca yang bikin kedai ini terasa menyenangkan. Ada smoking area, ada working space juga.. 😁


Working place

Aku ke lantai 2 untuk menikmati tayangan live pesbuk aksi jalan kaki aktivis lingkungan,Togu Simorangkir bersama tim 11, dari Toba ke Istana Negara hari ke-11 ditemani kopi pandan sambil melihat kesibukan lalu lintas. 😄




Ada yang ngikutin jugakah perjalanan mereka?? ☝️ Hari ini perjalanan hari ke-22, besok perjalanan hari ke-23. Jarak yang ditempuh sekitar 1800an km. Jadi, masih ga terlambat kalo ngikutin dari besok.. 😉

Stasiun LRT tampak menggantung. Dokpri.

Ga mau minum kopi, ada minuman non kopi. Camilan juga ada. Bahkan makanan berat seperti nasi goreng pun ada.

Mau pesan camilan, tapi trus ingat, kalo setelah ngopi mo beli pewarna rambut. Beli camilannya kapan-kapan, dweh.. 

Supaya bisa mampir lagi, trus cobain pilihan menu lain. Tempatnya ramah untuk yang solo. 😁😁


3 serangkai - kopi, John Green dan kacamata. Dokpri.

Kali ini bawa Paper Town-nya John Green, walaupun hanya bisa baca 1 bab. Selebihnya, asyik menonton perjalanan tim 11 ditemani musik di latar belakang yang terdengar agak kuenceng. Ternyata, aku duduk di dekat speaker.. 😅

Kadang kala, bawa buku waktu ngopi banyakan pencitraannya.. hahahaha.. (RS)
***



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...