Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Puisi | Aubade Pagi untuk Hujan Sore Hari

  Pagi tiba. Langit jingga menghangatkan. Aubade fajar ditemani embun melawat hari baru dengan tepuk tangan gerimis sehalus partikel cahaya.   Hujan melintas pagi ini. Sebercak cahaya membentuk lengkung indah tipis bersisian dengan bayu sendu, menerobos kisi-kisi jendela.   Hujan melintasi sore ini. Memeluk senja dengan halimun kelabu dan menyejukkan permukaan bumi yang disinggahi terik siang tadi.   Hujan melintas sore ini. Ranting dan dahan memeluk dedaunan lebih dekat, lebih rapat. Permukaan bumi merentangkan lengan sampai jauh. Rerumputan dan bunga-bunga menengadah dan menatap langit. Gerimis tak gaduh turun membasuh.   Hujan melintas sore ini. Memantik perasaan rindu nan sendu tentang romantisnya pelangi di cakrawala barat.   Aubade pagi untuk hujan sore hari. ***  

Kopi Lain Hati M.Isa

    Kopi Lain Hati (Dokpri.)   Discalimer : Foto ini diambil Desember tahun 2019 Kali pertama mampir ke kedai kopi ini, pengunjung masih belum rame.Ruangannya tidak begitu besar. Dominasi putih pada ruangan satu pintu ruko ini segera menyergap mata, begitu memasuki kedai kopi ini. Langit-langit yang relatif tinggi memberikan rasa lega. Ada beberapa kutipan yang menempel di dinding.Dan, beberapa bunga mungil di sebelah atas sana. Ada sofa juga. Di sebelah sini, ada beberapa meja yang dikelilingi beberapa kursi.   Beberapa kutipan di dinding. (Dokpri)         Anggrek (Dokpri)     Signature Coffee   Nama-nama kopinya sangat menarik. Signaturenya? Banyak.. :) Menurutku, nama-nama yang menarik itu sudah menjadi signature kedai kopi ini.. ^^ Dokpri. Kopi masih panas, ketika bentuk hati di permukaan kopi sudah mulai tak berbentuk.Sudah waktunya segera dihabiskan. 😊 (RS) ***  

Janji Tak Teguh Seorang Pencinta Buku

  Bazaar Buku. Dokpri.     Catatan: Januari 2021 Juni tahun lalu, aku sempat menuliskan bahwa aku tidak akan beli buku lagi sampai akhir tahun 2020. Bahkan, jika jumlah bukuku yang belum baca digabungkan dengan buku-buku Soya, seorang pembeli buku garis keras, maka daftar buku yang akan dibaca masih cukup banyak sampai 2 tahun mendatang. Artinya 2 tahun sejak Juni 2020 (sampai Juni 2022), sekalipun mampir ke toko buku, aku belum perlu boyong buku baru lagi.   Memahami kelemahan sendiri terhadap daya tarik buku bagus nan murah, aku memutuskan untuk tidak sering-sering mampir ke toko buku. Godaan untuk belanja buku masih sulit diabaikan. Adanya pembatasan kegiatan luar disebabkan masa-masa pendemi ini justru menambah barisan alasan untuk tidak sering-sering ke toko buku. Seorang pembeli buku sejati tahu, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak melihat buku judul-judul baru di toko buku tanpa membawanya pulang.. ;) Hal tersebut semakin didukung dengan adanya tok...

Distraksi Kopi

  Distraksi Kopi. Dokpri . Distraksi Kopi berada tidak jauh dari LRT Demang Lebar Daun. Berjalan kaki sejauh 30 meter, sampailah sudah. Selain Distraksi Kopi, ada beberapa kedai kopi lain yang berada di sisi jalan yang sama dengan Distraksi Kopi pada Jalan Demang Lebar Daun di kotaku. Namanya sudah berganti. Sebelum namanya Distraksi Kopi, sebelum aku sempat mampir ke sana, sebelum sempat mencicipi beberapa signature kopi, sebelum ada foto-foto di kedai dengan nama terdahulu, nama kedai sudah berganti.   Apakah suasananya beda ? Entah! Apakah suasananya sama ? Entah! 😉   Distraksi Kopi Di bagian teras kedai kopi yang menggunakan bangunan rumah di pinggir jalan ini, ada beberapa pengunjung sedang bercengkrama. Di bagian dalam kedai kopi, sebuah ruangan dibatasi dinding separuh ruangan. Aku memilih ruangan sebelah dalam. Dan, melihat edelweis diletakkan di atas beberapa meja bulat yang ada.   Duduk di bangku yang menempel pada dinding, aku menikmati Paper Towns. ...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...

Buku #7 - 11:11

Judul: 11:11 Karya: Lucia Priandarini Penerbit: PT Grasindo Tahun 2016 Ternyata, Hidup Kita Bersisian Selama Ini Btari Mahalaksmi adalah pribadi yang tidak suka terhadap suasana yang sama sekali asing dan berada di lingkungan yang tidak diakrabinya. Saudara kandungnya adalah temannya. Ada keadaan yang membuatnya hanya memiliki saudara-saudaranya sebagai teman. Namun, Btari mencoba hal yang baru, ikut open trip! Empat minggu menjelang pernikahannya, Btari memutuskan ikut open trip 1 x 24 jam ke Malang. Bersama 12 orang lain, Btari akan menyusuri beberapa tempat di Malang sebelum berakhir dengan menyaksikan matahari terbit di gunung Bromo. Btari akan menapaktilasi  Malang yang adalah kota tempat Btari menghabiskan masa sekolahnya sebelum pindah ke Jakarta.  Btari, menghabiskan masa kecil dan remajanya di Malang sebelum pindah ke Jakarta. Menjalani hidup sebaik-baiknya tanpa mengeluh sedikitpun termasuk perjodohannya dengan seorang pria, anak kenalan keluarga. Menjalani masa paca...