Langsung ke konten utama

Janji Tak Teguh Seorang Pencinta Buku

Bazaar Buku. Dokpri.
 

 Catatan: Januari 2021

Juni tahun lalu, aku sempat menuliskan bahwa aku tidak akan beli buku lagi sampai akhir tahun 2020. Bahkan, jika jumlah bukuku yang belum baca digabungkan dengan buku-buku Soya, seorang pembeli buku garis keras, maka daftar buku yang akan dibaca masih cukup banyak sampai 2 tahun mendatang. Artinya 2 tahun sejak Juni 2020 (sampai Juni 2022), sekalipun mampir ke toko buku, aku belum perlu boyong buku baru lagi. 

Memahami kelemahan sendiri terhadap daya tarik buku bagus nan murah, aku memutuskan untuk tidak sering-sering mampir ke toko buku. Godaan untuk belanja buku masih sulit diabaikan. Adanya pembatasan kegiatan luar disebabkan masa-masa pendemi ini justru menambah barisan alasan untuk tidak sering-sering ke toko buku.

Seorang pembeli buku sejati tahu, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak melihat buku judul-judul baru di toko buku tanpa membawanya pulang.. ;) Hal tersebut semakin didukung dengan adanya toko buku online yang acapkali menawarkan potongan harga yang (haduh) sulit ditampik. Tanya saja sama Soya… hahaha…

Ternyata, janjiku untuk tidak beli buku itu hanya isapan jempol tak teguh. Sebelum sampai ke akhir tahun aku sudah membeli 4 buku baru. Setelah 7 bulan berlalu sejak janji terucap dan 4 kali ke toko buku, aku takluk kepada 7 buku…  Betapa janji tak teguh seorang pencinta (baca: pembeli) buku… Hehehehe…

Salah satu alasan mengapa aku sulit melepaskan 7 buku tersebut selain karena penulisnya, alasan lainnya adalah kisah-kisah di buku tersebut adalah kisah hidup seseorang. Hidup yang diceritakan, pengalaman yang dituliskan, pikiran yang dicatatkan, selalu berlipat-lipat lebih menarik. Serupa kunang-kunang yang menawan hati.. J Pengandaian yang tak sejajar… hehehe…

Tujuh judul buku baru  itu masih belum rampung baca. Ada buku yang bahkan sampul plastiknya belum dibuka. Berikut ini judul-judulnya:

Tanah Air Baru, Indonesia. Buku karangan Hilde Janssen ini bercerita tentang istri-istri para pria Indonesia berkebangsaan Belanda yang kembali ke Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Paper Town. Karya John Green ini sudah difilmkan. Selain Paper Town, karya John Green yang suda difilmkan adalah The Fault in Our Stars.

Selebriti. Karya Alberthiene Endah. Diterbitkan pertama kali di tahun 2008 dan cetakan ketiganya dirilis tahun 2016, buku ini menceritakan tentang pribadi-pribadi yang berjuang menjadi selebriti.

Larung. Karya Ayu Utami. Larung merupakan lanjutan novel Saman. Nah, aku belum selesai baca Saman. Novel Saman yang kupunya adalah edisi bahasa Inggris. Mungkin itulah sebabnya jejak baca Saman yang masih berada di halaman-halaman awal.

Bersepeda Melintasi Benua, Merambah Dunia. Ditulis oleh Bambang Hertadi Mas. Belum dibuka plastiknya.. J Namun, pengalaman beliau tentu sangat menarik untuk diikuti.

A Rookie & The Passage of Mental Health Law : The Indonesian Story. Ditulis oleh Nova Riyanti Yusuf disingkat Noriyu. Sebuah buku dengan 2 sisi kisah. Sisi yang lain berjudul Interupsi! The Other Side of the Story.

Ruth, Tiga Kali Sepuluh (The Unheard Songs). Buku ini adalah buku tentang Uthe, sapaan Ruth Sahayana, penyanyi top di masa 25 – 35 tahun lalu. Salah satu lagu favoritku yang dinyanyikan Uthe adalah Kaulah Segalanya. Di masanya, lagu ini selalu berada di posisi teratas tangga lagu anyar radio. Buku ini disusun oleh Tamara Geraldine. Diselingi dengan foto-foto menarik dan artistik, ada banyak hal yang mengisahkan perjalanan karir bermusik Uthe.

 

Begitu kilas sampulnya. Soalnya, masih belum rampung baca.. 😀

***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Buku #9 - Love Rosie (Where Rainbows End)

      Love, Rosie (dokpri.) Judul novel: Where Rainbows End  Tahun terbit: 2004 Penulis: Cecelia Ahern Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani Hal: 632 halaman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun: 2015   Love Rosie (Where Rainbows End) : Menjadi Sahabat Penamu Seumur Hidupku Aku masih ingat betapa membahagiakannya ketika mendapatkan surat dari seorang sahabat. Dulu. Dulu sekali. Entah kapan? Hehehehe… Novel Where Rainbow End telah difilmkan. Judulnya menjadi Love, Rosie. Film Love, Rosie sudah pernah kutonton bertahun-tahun lalu. Aku tidak menonton dari awal. Kemudian aku mendapatkan novel yang menjadi awal film tersebut dan menikmati persahabatan luar biasa antara Rosie Dunne dan Alex Stewart. Pertemanan yang dibangun sejak usia kanak-kanak, bersama-sama melewati masa remaja, saling mendukung di masa dewasa mereka dan terus saling menyayangi dalam segala musim kehidupan hingga melampaui usia separuh baya. *** Keluarga orangtua Rosie Dunne dan orangtua...