Langsung ke konten utama

Buku #7 - 11:11


Judul: 11:11
Karya: Lucia Priandarini
Penerbit: PT Grasindo
Tahun 2016

Ternyata, Hidup Kita Bersisian Selama Ini

Btari Mahalaksmi adalah pribadi yang tidak suka terhadap suasana yang sama sekali asing dan berada di lingkungan yang tidak diakrabinya. Saudara kandungnya adalah temannya. Ada keadaan yang membuatnya hanya memiliki saudara-saudaranya sebagai teman. Namun, Btari mencoba hal yang baru, ikut open trip!

Empat minggu menjelang pernikahannya, Btari memutuskan ikut open trip 1 x 24 jam ke Malang. Bersama 12 orang lain, Btari akan menyusuri beberapa tempat di Malang sebelum berakhir dengan menyaksikan matahari terbit di gunung Bromo. Btari akan menapaktilasi  Malang yang adalah kota tempat Btari menghabiskan masa sekolahnya sebelum pindah ke Jakarta. 

Btari, menghabiskan masa kecil dan remajanya di Malang sebelum pindah ke Jakarta. Menjalani hidup sebaik-baiknya tanpa mengeluh sedikitpun termasuk perjodohannya dengan seorang pria, anak kenalan keluarga. Menjalani masa pacaran selama 4 tahun, bertunangan kemudian akan menikah.

Dalam perjalanan 1 x 24 jam nya, tanpa menduga sama sekali, Btari berjumpa dengan Mikhael, salah satu teman masa kecilnya. Selama 8 tahun, mereka pergi ke sekolah yang sama. Mikhael pindah ke Jakarta sejak kuliah. Tujuan Mikhael ikut open trip Malang adalah hendak memotret Bromo. Mikhael masih mengingat Btari sekalipun tak banyak kenangan bersama yang berhasil dikumpulkan selain kenyataan bahwa Mikhail pernah sangat mengamati Btari.  

Dalam 24 jam tersebut Btari dan Mikhail bernostalgia tentang masa kecil mereka sambil menapastilasi beberapa peristiwa dalam hidup mereka berdua yang lintasannya bersilangan. Dan, detail-detail kecil yang bermunculan tak sengaja. Sudut-sudut masa kecil kadang serupa sarang yang terlalu hangat untuk ditinggalkan. (hal.16)

Bertahun-tahun sebelumnya, Mikhail dan Btari, masing-masing mengunjungi Malang dan sesekali mampir ke rumah-sakit mencoba melihat kemungkinan berjumpa kembali. Rumah-sakit, tempat mereka menjadi akrab karena senasib. Akrab walaupun tidak banyak percakapan di dalamnya. Rumah-sakit, bukan sekolah.

Di 24 jam tersebut, Btari menghadapi kenyataan betapa sederhananya Mikha memaknai hidup. Di 24 jam tersebut, Mikha menyadari kekagumannya pada anak perempuan cerdas dulu masih tersimpan dalam di sudut hatinya. Hening adalah jeda yang tidak menuntut, tapi bukan berarti tidak peduli.  (hal.77)

Di 24 jam tersebut, Btari belajar dari Mikha bagaimana cara menentukan pilihan dan menjalani hidup dengan hati yang bebas. Mulai dari yang sederhana, seperti memesan makanan hingga yang sulit, seperti dengan siapa hendak menjalani hidup. Di 24 jam tersebut, Mikhail belajar dari Btari bahwa masih ada penerimaan yang manis dan keikhlasan menjalani hidup.

Di 24 jam tersebut, mereka saling berbagi rahasia keluarga yang ada hubungannya dengan Talasemia. Baik Btari, maupun Mikhail. Percakapan-percakapan tentang masa lalu yang kemudian dilihat dengan perspektif masa kini, sungguh menenangkan. Betapa dalam 24 jam tersebut, bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang. Juga tujuan hidup di masa mendatang.

Dapatkah Btari yang dicarinya dari perjalanan 24 jam tersebut? Mampukah Mikhail menerima kenyataan tentang masa depannya? Mungkinkah seseorang menjadi tujuan hidup bagi yang lainnya?


Talasemia

Seketika ia lega tidak harus menikah dengan orang yang hanya tahu angka sebagai satuan untuk menghitung uang, dan bukan tentang hidup mati. (hal.127)

Aku membaca sedikit tentang Talasemia bertahun-tahun lalu. Salah satu penyakit yang merusak kerja dalam darah. Orang yang hidup dengan Talasemia memiliki kemungkinan hidup yang tidak lama. Data 20-25 tahun lalu, kemungkinan hidup bahkan dibawah 17 tahun. Orang dengan pembawa gen talasemia dari orang tuanya pun memiliki kemungkinan yang nyaris tak berbeda. Bertahun-tahun kemudian, aku menemukan lagi kisah yang mengangkat topik tentang penyakit tersebut dalam 11:11. Tentu saja ada begitu banyak perubahan pada angka persentase kemungkinan hidup bagi pribadi yang hidup dengan Talasemia maupun memiliki gen pembawa.

Dan entah, sudah seberapa banyak edukasi tentang Talasemia ini tersebar pada masyarakat sampai saat ini. 

Lucia Priandini, terima kasih. Telah membawa tentang Btari dan Mikhail... 😄 (RS)

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Buku #9 - Love Rosie (Where Rainbows End)

      Love, Rosie (dokpri.) Judul novel: Where Rainbows End  Tahun terbit: 2004 Penulis: Cecelia Ahern Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani Hal: 632 halaman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun: 2015   Love Rosie (Where Rainbows End) : Menjadi Sahabat Penamu Seumur Hidupku Aku masih ingat betapa membahagiakannya ketika mendapatkan surat dari seorang sahabat. Dulu. Dulu sekali. Entah kapan? Hehehehe… Novel Where Rainbow End telah difilmkan. Judulnya menjadi Love, Rosie. Film Love, Rosie sudah pernah kutonton bertahun-tahun lalu. Aku tidak menonton dari awal. Kemudian aku mendapatkan novel yang menjadi awal film tersebut dan menikmati persahabatan luar biasa antara Rosie Dunne dan Alex Stewart. Pertemanan yang dibangun sejak usia kanak-kanak, bersama-sama melewati masa remaja, saling mendukung di masa dewasa mereka dan terus saling menyayangi dalam segala musim kehidupan hingga melampaui usia separuh baya. *** Keluarga orangtua Rosie Dunne dan orangtua...