Langsung ke konten utama

Beskabean Lemabang

Beskabean Lemabang (Dokpri.)

Disclaimer: Foto-foto diambil pada awal Januari 2020.

Ketika berdiri di depan sebuah pusat perbelanjaan di wilayah Lemabang, aku melihat sebuah bangunan kecil berada di sebuah halaman rumah dengan pagar rendah yang terbuka.

Bentuk rumah lawas di sebrang sana sungguh menarik perhatian. 

Di hadapan bangunan tersebut diletakkan beberapa meja dan kursi. Lampu-lampu masih belum dinyalakan. Sore sudah turun. 


Sebrang jalan (Dokpri.)

Beskabean Lemabang

Daftar menu terlihat dengan paduan warna kontras.. 😉

Aku terlihat asing. Well, kali pertama ke sini, aku ke Beskabean Lemabang.. Itupun setelah mengecek kedai kopi di sekitaran tempat kerja..

Duduk dengan tenang setelah memesan minuman, aku mengeluarkan buku yang masih belum selesai baca.

Jalanan yang sibuk dengan kendaraan mengantarkan orang-orang yang baru pulang. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Tersisa bintang yang masih belum tampak. 😘


Kopi dan buku (Dokpri.)

Matcha coffee (Dokpri.)



A few months later...

Di lokasi tempat Beskabean Lemabang  sebelumnya beroperasi, sudah digunakan untuk usaha lain. Ada bangunan lain yang ditambahkan pada halaman di depan rumah utama. 

Halaman yang lega dan lapang, beberapa pohon tinggi di sudut halaman dan rerumputan, benar-benar keuntungan rasa teduh dan nyaman. 😊

Beskabean sendiri, sudah pindah lokasi ke tempat lain. Ada beberapa pula.. 😉

Nanti, ya, aku ceritakan. Sudah pernah mampir. Dan, ada ceritanya juga. 😄

-RS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...