Derit pintu yang membuka ke arah dalam, segera memenuhi ruang dengarku.
Mataku mengikuti sosoknya yang bergerak menjauhi pintu, menuju tempatnya biasa menikmati coffee latte kesukaannya.
Aku menjadi terbiasa melihatnya.
Mendatangi kedai kopi ini sembarang waktu hanya untuk melihatnya yang kedua kali.
Kali keempat melihatnya, aku mulai mengikuti ritme kunjungannya.
Maka, dari sekian banyak kunjungan...
...aku memilih lebih dulu datang.
Agar kulihat dia dengan leluasa.
Melihatnya berada (dalam) radius pandangku,
sungguh melegakan.
Melihatnya berada (dalam) radius pandangku,
menenggelamkan lesung di pipiku lebih dalam.
Lalu aku menyaksikan...
Perlahan. Sedikit demi sedikit.
Gelembung tak kasat mata mengelilingi pria itu.
Makin lama makin besar sehingga membungkusnya.
Membuatnya jauh.
Menjadi jauh.
Menjauhi yang lain.
Juga menjauhi aku.
"Jangan hanya di duniamu. Jangan hanya tentangmu..."
"Keluarlah.. Pecahkan gelembung tak kasat mata di sekelilingmu. Temuilah kami."
"Hiduplah. Nikmatilah kehidupan ini."
Aku sangat.
Sangat
Sangat ingin mengenalmu.
(RS)
Note: Gambar hanya pelengkap tak menderita.

Komentar
Posting Komentar