Langsung ke konten utama

Kopi Perjuangan

 
Dokpri.

Setelah melewati 2 alamat, Kopi Perjuangan yang kudatangi kali ini berada di alamat yang ke-3.

Aku belum pernah mendatangi Kopi Perjuangan di 2 alamat sebelumnya. Namun, ketika memeriksa ke Google Map, aku menyadari alamat terbarunya masih belum diperbarui. Entah kini.. 😅

Dokpri.

Kopi Perjuangan berada di lokasi yang sangat tak biasa. Pertama, bukan berada di jalan besar atau jalan utama. Kedua, tidak berlokasi di dekat perkantoran, pusat perbelanjaan atau di dalam mall. Ketiga, berada dalam halaman rumah seseorang dan berada di lantai 2. Sungguh sangat tak biasa!

Dari lt. 2




Aku mengetahui tentang kedai kopi ini dari kolega yang tak sengaja melihat plang kedai kopi ketika melintas di jalan kecil tersebut. Berada di perumahan penduduk yang berada di belakang sebuah mall, plang di tepi jalan bukanlah hal istimewa. Ada praktek dokter, ada fotokopi, ada toko kecil, terlihat dari plang yang ada di sisi kiri dan kanan jalan. Maka ketika terlihat ada plang kedai kopi, akulah yang diajak ke sana.😄

Ketika akhirnya berkunjung ke sana, halaman tampak sepi. Naik ke lantai 2, kedai kopi tampak sepi. Tapi, terlihat bar dengan segala kelengkapan kedai.. 😄


Kopi Perjuangan
Ternyata, pengunjung mulai ramai setelah sore berakhir. 😄 Minum kopinya tidak perlu sampai berjuang yang bagemana banget begitu.

Signature Kopi Perjuangan




Menikmati petang berakhir dari lantai 2 sambil menyaksikan matahari sore yang turun dengan latar orens yang luar biasa memikat. 😘



Gitu, dweeh.. 😉 (RS)















 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...