"Kopinya, enak?" Sebuah pertanyaan muncul, setelah seseorang meminta izin untuk memotretku. Aku mengiyakan, dan melanjutkan kegiatan bacaku. Aku membawa buku Ikan-ikan Mati karya Roy Saputra yang baru kubeli beberapa hari sebelumnya.
Aku tersenyum simpul. "Pahit." jawabku.
Dalam waktu yang sangat singkat sebelum aku menjawab pertanyaannya, aku sedang memikirkan jawaban versi lengkap. Dalam waktu yang sangat singkat sebelum aku menjawab pertanyaannya, aku memikirkan jawaban apa yang sangat diinginkan oleh si penanya.
"Selera itu sangat subjektif dan tidak diperdebatkan. Tidak perlu, malah. Setiap hal yang bersifat subyektif, tentu saja tidak bisa dijadikan landasan untuk menentukan mana yang lebih baik, mana yang lebih enak, mana yang lebih kewren, dan sebagainya, dan seterusnya, sampai gerhana matahari yang menggelapkan semesta datang lagi.." :)
"Kalo aku bilang enak, tak tentu orang lain akan mengatakan hal yang sama. Seorang yang kukenal lebih memilih kopi yang memberikan rasa asam ketimbang pahit. Aku lebih memilih citarasa pahit pada kopi. Apakah aku tidak menyukai kopi rasa asam? Tidak juga. Hanya saja, aku menikmati kopi yang memberikan citarasa pahit pada lidahku. Citarasa kopi itu tidak untuk diperdebatkan, Kapten Ujaaaaaang.."
Begitulah versi panjang jawaban yang ingin aku sampaikan. Namun, uraian seperti ini tidak tentu bisa dinikmati si penanya. Ya, kan? Ya, kan? Iyaaa, dooong..
Jadi, setiap kali aku ditanya,"Di mana minum kopi yang paling enak?", maka, aku akan menjawab,"Minum kopi di manapun akan selalu terasa enak."
Setiap kali aku ditanya,"Rekomendasikan kopi yang enak, dong."; aku akan menjawab "Semua kopi itu terasa sangat enak. Pilihanpun sudah sangat banyak. Barisan jenis latte; campuran gula aren dan susu, dan banyaknya kombinasi kopi entah dicampur dengan jeruk, coklat dan pandan; bisa dijadikan pilihan. Hanya saja, pastikan selera kopimu yang bagaimana yang paling kau sukai. Kalo tidak suka terlalu pahit, minta saja tambahan susu atau gula pasir atau gula aren."
Terakhir, aku tidak pernah menyarankan teman-temanku untuk menyukai kopi. Kalau pun mau mulai belajar menyukai kopi, lakukan pelan-pelan saja. Toh, tak akan ada yang mengejar. Bagiku, ada begitu banyak bijih kopi produk lokal yang menanti giliran untuk masuk dalam daftar coffee beans of Indonesia. Yaitu, daftar kopi lokal yang sudah kunikmati.
***
Sore tadi, bijih kopi yang kupilih untuk kopiku menguarkan aroma pisang. Sungguh tak biasa. Aku memilih bijih kopi ini untuk pilihan kopiku karena aroma tak biasa tersebut.
Aku sudah pernah mencecap citarasa buah coklat pada after taste secangkir kopi. Cangkir mungil yang terbuat dari kertas. Aku pernah mencium aroma vanila juga buah-buahan pada bijih kopi lokal yang sudah dikemas dengan sangat baik. Kemasan yang membuat harga bijih kopinya lebih mahal. Selain pahit yang sangat kuat di bagian lidah agak belakang yang dekat dengan tenggorakan, aku sudah pernah mencecap rasa pahit tersebut bersamaan dengan aroma langu pada kopi V60 yang kupesan. Aroma langu itu, entah muncul karena bijih kopi yang tidak cukup kering dijemur, atau karena lembabnya suhu pada saat penyimpanan, atau bisa juga karena telah berusia lebih dari 1 bulan barulah disajikan.
Apakah aku mempedulikan asal bijih kopi? Enggak juga. Sepanjang hasil seduhan kopinya menghasilkan citarasa pahit, aku akan tetap suka. Walaupun setelahnya jantung berdebar lebih kencang, aku tetap suka. Suka pada kopi, memang menggelikan. Double shot, selalu mendebarkan! 😉
***
Setelah memotretku dari belakang dengan gelas kopi yang terlihat di dekat buku, kami sempat bercakap-cakap sebentar. Setelahnya, aku memintanya menunjukkan hasil potretnya.
Punggungku terlihat indah di sana. 😊
Langit terlihat lebih dekat di sini. Kedai kopi ini adalah rumah dengan 3 lantai. Dan, atap tempat aku menikmati sore ini adalah lantai ke-4 yang berada di atas sebuah kamar. Rooftop yang menjadi lokasi membaca yang menyenangkan untukku ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan atap-atap rumah berwarna oranye kecoklatan. Langit di Barat makin gelap. Aku melihat sebuah layang-layang dengan garis biru dan merah melayang di dekat mendung itu. Melayang tenang, tak gentar. Aku separuh berharap tidak ada kilat yang melintas. Kopiku mulai terasa asam. Kopi dingin memang seperti itu. Dan, aku tidak pernah mempermasalahkannya. 😀 (RS)
***
Komentar
Posting Komentar