Langsung ke konten utama

Kopi Yor

Kop / Yor. (Dokpri.)

Discalimer: Foto ini diambil Desember tahun 2020

Kali pertama mampir ke kedai kopi Kopi Yor ini, setelah mengunjungi Joe House. Jarak Kopi Yor dan Joe Housetidak jauh. Berada di jalan yang sama, kami hanya berjalan sekitar 50 meter. Karena jarak yang tak jauh ini, maka kami minum kopi sebanyak 2 kali. Demi apa, cobaaaa?

 
Pintu kaca. (Dokpri.)

Kop / Yor Outdoor. (Dokpri.)

Kop / Yor

Penulisan Kopi Yor menjadi Kop / Yor membuatku memikirkan minuman lain, es kopyor..😅 Pintu kaca dengan bingkai kayu berwarna coklat tua menyambut kami. Nuansa putih, meja yang menempel ke dinding dengan bangku bundar di dekatnya, bangku yang menempel di dinding dengan meja di dekatnya terlihat dalam ruangan ruko 1 pintu ini.



Menu Kop / Yor. (Dokpri)

 

Signature Coffee

Ketika es kopi susu gula aren dan boba mulai menjadi bagian hari-hari menikmati kopi, maka kopi jenis tersebut jadi pilihan kami.

Aku masih membutuhkan waktu untuk memilih, karena ingin mencoba mencicipi beberapa jenis kopi. Namun, aku berencana kembali untuk mencoba mencicipi  yang lain.

Ifong, yang bersamaku saat itu, memutuskan memilih Kopsus Boba. Boba memang sedang jadi idola.. 😁

Kopi pilihan sendiri. (Dokpri)
 
Es Kopi Awa. (Dokpri.)

Kami menghabiskan waktu menikmati kopi sambil berbincang tentang banyak hal. Teruama sekali tentang pilihan-pilihan dalam hidup. Eciyeeeeee...

 

Alert!

Februari 2022. Setelah berlalu setahun sebulan, sejak pertama kali ke sana, aku lewat jalan itu. Beberapa hari yang lalu melintasi jalan ini dan melihat ruko satu pintu itu tertutup. Entah tutup sementara, entah pindah, entah tutup...permanen!

Berharap menemukan kedai kopi ini di alamat yang baru ketika berkelana mengunjungi kedai-kedai kopi di kotaku ini. (RS)

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...