Perjalanan Pencinta Petualangan
Life Traveler adalah catatan perjalanan Windy Ariestanty yang mengunjungi beberapa kota di beberapa Negara. Tentang budayanya, tentang orang-orangnya, tentang teman-teman seperjalanan, juga tentang makna “pulang” ketika sedang dalam perjalanan dan citarasa pulang ketika berada sangat jauh dari rumah.
Dengan 381 halaman, Windy memanjakan pembaca Life Traveler dengan foto-foto; penjelasan detail keadaan tempatnya berkunjung dan cuaca; ilustrasi-ilustrasi sapuan cat air yang terlihat berwarna sangat pastel; traveler’s facts, tips, notes and infos. Yang berencana melakukan perjalanan atau menjadi ingin mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan yang telah dijalani Windy, pastilah membutuhkan semua info tersebut. 😃
Pada buku terbitan Gagas Media dan diterbitkan tahun 2011 dibagi menjadi 18 bab dan 2 kisah tambahan dari 2 sahabat Windy; Windy mengisahkan tentang perjalanan dan menjalani kota-kota di Viet Nam; menghadiri Frankfurt Book Fair; mampir ke Praha selama kurang dari 12 jam di sela-sela kegiatan di Frankfurt; menyusuri Lucerne, Swiss; Paris, mengunjungi beberapa tempat di Amsterdam.
Selain mengunjungi danau-danau, jembatan-jembatan, museum-museum, kuil dan kastil, menara yang melegenda, Windy juga mencatat pertemuan dengan beberapa pribadi menarik dan hangat. Selain Mirek, sopir kewren yang sangat luwes, salah duanya adalah Marjolein. Mar adalah seorang Belanda yang bekerja sebagai pemandu wisata di Paris dan sangat mencintai Indonesia sangat ke tulang-tulangnya. Ekspresi kerinduannya pada Indonesia sungguh bikin takjub.
Yang paling mendebarkan dalam melakukan perjalanan adalah melakukan sesuatu yang durasi waktunya sangat mepet. Dan, jika berhasil dilakukan dengan lancar, adrenalin masih tersisa sampai di akhir perjalanan. Aku ikut berdebar-debar, membaca pengalaman Windy dan kawan-kawan. Pertama, ketika memutuskan berkeliling kota dengan tuk-tuk di Phnom Penh, padahal hanya punya waktu transit 2 jam. Hebat banget sopir tuk-tuknya. Hahaha.. Yang kedua, melakukan perjalanan tak direncanakan ke Praha. Dan yang ketiga adalah menginjakkan kaki di kilometer Nol yang berada di depan gereja Notre Dome, Paris. Durasi waktu keluar dari bus dengan melompat selama 1 menit saja, sungguh mendebarkan. Cara masuk kembali? Sama! Melompat juga. 😃
Setiap individu yang pernah melakukan perjalanan, baik solo maupun grup, setidaknya pernah mengalami sekali hal yang tak terduga, entah terlambat tiba di tujuan, entah terlambat di sebuah pertunjukan yang tiketnya sudah dibeli, maupun terjebak di airport. Windy menceritakan pengalamannya terjebak selama 24 jam di bandara O’Hare, Chicago, membuatnya bertemu pelayan restoran wanita, seorang imigran asal China; dan memaknai kembali: “pulang.”
***
Percayalah! Buku ini bukanlah buku pertama yang aku baca, yang berkisah tentang perjalanan dan kota-kota manarik. Ada begitu banyak catatan perjalanan. Fakta bahwa ada begitu banyak tempat di Indonesia (dan dunia) yang bisa dikunjungi dan ada begitu banyak bloger yang menuliskan perjalanan mereka, membuat tempat-tempat tersebut seolah bisa dibaui dengan panca indra.
Namun, buku ini, Life Traveler, (seolah-olah) mengisahkan tujuan perjalanan itu sendiri, yaitu pulang, entah ke rumah, entah pada seseorang, entah pada diri sendiri. Dan, (bagiku), juga pengelanaan atas pemahaman terhadap pulang pada pencipta.
Rasa takjub dan terpukau ketika menyaksikan keindahan suatu tempat entah kebiasaan-kebiasaan lokal, entah bentang alam, entah cuaca, entah orang-orangnya hanya membawa kesadaran yang makin mengerucut bahwa perasaan buncah dan limpah tersebut berasal dari-Nya.
Perasaan hangat yang mengalir dalam hati datang bersama senyum ketika menyusuri kalimat-kalimat dalam setiap kisah. Aku hendak mengutip apa yang ditulis Windy di halaman 381, “Kalianlah yang selalu menyambut dengan hangat kepulangan saya di muka pintu. Lengan yang selalu terentang, dekapan yang erat, dan senyum yang tak putus mengembang. Terlebih lagi, kepercayaan yang tak berkurang sedikit pun: bahwa sejauh apa pun saya terbang, saya pasti selalu pulang.”
Maka, pulang selalu menjadi bagian ujung dari perjalanan.
Jika sudah punya Life Traveler, namun belum sempat baca, selamat membaca. Selamat melakukan perjalanan menuju pulang. 😄 (RS)
***
Komentar
Posting Komentar