Langsung ke konten utama

Buku #10 - "Janji": Kesempatan Kedua, Sekali Lagi

 

Buya, seorang pemimpin sekolah agama, bermimpi tentang Bahar. Bahar adalah salah satu siswa di sekolah yang dipimpinnya. Bahar memutuskan meninggalkan sekolah dan satu-satunya keluarga miliknya yang tersisa, neneknya. Sepanjang kepergiannya, Bahar tidak pernah mengirimkan kabar sama sekali.

Empat puluh tahun telah berlalu tanpa kabar Bahar. Buya mencarinya. Selama bertahun-tahun. Buya mencoba peruntungan dengan mencari Bahar sampai ke ibukota provinsi terdekat. Namun, Bahar tidak berhasil ditemukan. Buya memutuskan tidak melanjutkan usahanya.  Sampai, sesuatu mendatanginya.  Buya bermimpi tentang Bahar!

Buya mengutus Baso, Hasan, dan Kaharuddin, untuk mencari keberadaan Bahar. Maka, dimulailah pertualangan 3 orang sahabat ini, sambil menapaktilasi perjalanan hidup Bahar.

***

Napak Tilas Hidup Bahar

Bahar meninggalkan pesantren , tempatnya menuntut ilmu, menuju kota terdekat. Di kota yang baru, kehidupan Bahar tidak jauh dari pasar induk. Bekerja sebagai kuli angkut pada pagi hingga sore, lalu menghabiskan malam dengan minum minuman keras di sebuah bar. Di bar tersebut Bahar berkenalan dengan pengusaha sekaligus rentenir yang bernama Bos Acong. Acong berkali-kali membujuk Bahar untuk menjadi tukang pukulnya, namun Bahar selalu menolak.

Suatu kali, demi menyelamatkan seorang temannya, Bahar mendatangi Bos Acong dan mengaku bahwa Baharlah yang membakar gudang beras milik Acong yang berada di pasar induk. Sebagai hukuman, Bahar menjalani kehidupan selama 5 tahun dalam penjara.

Rampung menjalani hukuman,  Bahar meninggalkan kota tersebut, menuju kota berikutnya. Berbekal dengan kursus eleknonik dan memasak yang diikutinya selama di penjara, Bahar membuka usaha memperbaiki peralatan elektronik di kota yang baru; dan mengasah kemampuan memasaknya. Jatuh cinta pada Delima, Bahar harus menunggu beberapa tahun hingga mendapat restu dari orang-tua Delima.

Namun, suatu kali kebakaran yang terjadi di tempat usaha orang-tua Delima. Malangnya, Delima sedang berada dalam toko ayahnya dan terjebak di sana. Dalam kesedihan yang mendalam, Bahar meninggalkan kota ke-2 yang dijalaninya setelah meninggalkan sekolahnya. Lalu pergi menuju kota berikutnya, kota yang memiliki tambang emas. Bahar bekerja dalam banyak shift sebagai upayanya menghalau kesedihan.

Setelah uang terkumpul cukup, Bahar meninggalkan lokasi tambang menuju kota berikutnya. Di kota ini, Bahar memutuskan menetap. Bahar membuka usaha rumah makan yang dinamai menggunakan nama mendiang istrinya.

 

Perjalanan 3 Sekawan

Selama berhari-hari pencarian terhadap Bahar, 3 sekawan – Baso, Hasan dan Kaharuddin -  berjumpa dengan setiap orang yang pernah dekat dengan Bahar dalam kehidupan Bahar. Sekalipun tidak selalu mudah bertemu dengan orang yang tepat untuk menceritakan tentang Bahar, namun sepanjang pencarian mereka yang berpindah-pindah tempat dan membawa mereka ke banyak kota, kesehatian, kegigihan dan ketekunan terus diperlihatkan oleh 3 sekawan ini.

Dalam pencarian tersebut, 3 sekawan ini melihat bagaimana Bahar menjalin pertemanan dan kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut menolong mereka mengerti apa yang menjadi yang terpenting dalam kehidupan Bahar.

Selama hidupnya, Bahar menunjukkan kepedulian kepada sesamanya dengan apa membela yang lemah. Kisah tentang hidup Bahar menginspirasi Baso, Hasan dan Kaharuddin untuk memiliki hidup yang berdampak pada setiap orang yang hadir dalam kehidupan mereka.

Beberapa hal yang menjadi tema utama pada buku Janji karya Tere Liye ini adalah:

1.     Janji Bahar pada Buya

Bertahun-tahun mengalami naik turunnya kehidupan, Bahar tetap memegang teguh janjinya terhadap Buya akan selalu membela yang lemah. Sekalipun hidupnya tidak selalu mudah, namun kesadaran memberikan perlakuan yang adil pada setiap orang yang dijumpai menjadi bagian hidup Bahar.

2.    Tujuan Hidup

Dengan memiliki tujuan hidup,  membuat Bahar tidak menyia-nyiakan waktu untuk selalu belajar hal yang baru dan mengajarkan apa yang dia punya kepada orang lain. Tujuan hidup membuat seseorang tetap fokus. Demikian juga pada Bahar.

Apapun yang menimpa Bahar, baik kesedihan maupun kebahagiaan; baik kemalangan maupun keberuntungan, Bahar berpegang pada tujuan hidup untuk selalu bisa memberikan hal baik pada orang-orang di sekitarnya.

3.   Hidup yang pantas diceritakan

Banggakah kita pada hidup kita? Apa yang akan orang ceritakan tentang kita jika kita telah “pulang”?

Bahar menggunakan sebaik-baiknya waktu miliknya. Bekerja, mengajarkan orang-orang semua kemampuan yang dia miliki dan menjadi teladan bagi orang-orang yang lebih muda.

4.    Menggunakan uang dengan baik

Ketika Bahar bekerja di tambang, uangnya disimpan supaya pemilik warung tempat dia singgah pertama kali berkesempatan untuk naik haji. Ketika Bahar memiliki usaha rumah makan, uangnya disisihkan untuk memberi makan setiap orang yang tidak bisa membayar makan. Bahkan, tabungannya yang rencananya akan digunakan Bahar untuk naik haji, justru digunakan untuk membeli sebuah rumah bagi yatim piatu.

Bahar bekerja sangat keras dan menggunakan uang miliknya dengan sangat baik.

5.  Kesempatan Kedua

Di setiap kota yang baru, Bahar sekali lagi memiliki kesempatan kedua. Memiliki kehidupan lagi dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

***

Di akhir pencarian, Baso, Hasan dan Kaharuddin, mengetahui bahwa Bahar telah mangkat. Setelah mengetahui seluruh kisah hidup Bahar, 3 sekawan ini pulang. Dan hendak menceritakan pada Buya bahwa Bahar telah menjalani hidupnya dengan sangat baik.

***  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...