Langsung ke konten utama

5 Hal yang Menjadi Kekhasan karya-karya Jonas Jonasson

 

Beberapa tahun terakhir, jumlah buku terjemahan dari berbagai bahasa, penulis dari berbagai Negara dan berbagai genre mengisi rak-rak toko buku. Pilihan yang semakin banyak ini tentu saja semakin menambah pilihan bacaan dan tambahan literasi di rumah.

Jonas Jonasson adalah penulis Swedia yang karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa karyanya yang sudah kubaca antara lain The Girl who Saved the King of Sweden; The Hundred-Year-Old Man who Climbed Out the Window and Dissapeared dan The Accidental Further Adventures of the 100-Year-Old Man.

Sejauh ini, ada beberapa hal yang muncul dan tampaknya bisa saja menjari kekhasan Jonasson bertutur. Hal-hal tersebut antara lain:

Orang-orang tidak biasa. Pada The Hundred-Year-Old Man who Climbed Out the Window and Dissapeared dan The Accidental Further Adventures of the 100-Year-Old Man tokoh utamanya adalah seorang kakek berumur sangat tua, 100 tahun. Usia yang sangat tidak biasa untuk melakukan perjalanan dan petualangan baru.

Pada The Girl who Saved the King of Sweden yang menjadi tokoh utamanya adalah seorang gadis buta huruf asal Afrika Selatan.

Anti rutinitas. Tokoh utama dalam karya Jonas Jonasson memiliki keberanian meninggalkan tempatnya dilahirkan menuju tempat yang betul-betul baru. Pribadi-pribadi yang meninggalkan semua hal yang terbiasa dihadapi. Pribadi-pribadi yang gelisah dengan hal-hal yang menjadi rutinitas dan memutuskan meninggalkannya. Dalam kisah The Girl who Saved the King of Sweden, tokoh utamanya lelah dengan kemiskinan yang seperti menjeratnya sejak lahir.

Meninggalkan kehidupan yang bertahun-tahun sudah dijalani sungguh membutuhkan keberanian. Jelas keberanian yang tidak biasa karena tidak pernah merencanakan tujuan akhir dari perjalanan yang ditempuh. Namun, tekad untuk meninggalkan rumah tempat semua yang dikenal sungguh kisah yang sangat menggugah.

Bertemu pemimpin dunia. Siapa yang pernah membayangkan bertemu dengan beberapa pemimpin dunia dalam kesempatan yang tidak biasa. Tokoh utama pada buku karangan pak Jonasson ini diceritakan bertemu dengan pemimpin dunia. Entah presiden Amerika Serikat, kanselir Jerman, presiden Korea Utara, raja Swedia, perdana menteri Swedia. Kisah heroik mereka selalu bersinggungan dengan hidup para pemimpin dunia. Kemungkinan yang sangat tipis untuk berjumpa dengan para pemimpin dunia dan bersinggungan kehidupan dengan mereka menjadi bagian utama kisah dari perjalanan mereka.

Bertemu dengan pemimpin negeri sendiri saja sudah tipis. Maka, betapa tipisnya peluang bertemu dengan pemimpin dunia dari Negara yang berbeda dari negeri asal. Ketika kesempatan tersebut datang di depan mata, tentu saja yang lebih dulu terpukau adalah pembacanya. Dalam hal ini, akulah yang terpukau terlebih dulu dibandingkan dengan tokoh utamanya. J

Rumah baru di negeri asing. Para tokoh utama di novel Jonas Jonasson akan melakukan perjalanan meninggalkan rumah mereka di Negara asal mereka. Bertemu dengan orang-orang baru. Berbagi cerita dan rahasia. Setelah berpetualang dalam perjalanan, mereka akan menetap di sebuah negeri asing dan memiliki rumah di sana. Rumah baru di negeri asing.

Perjalanan, petualangan dan pengalaman ekstrem. Tokoh-tokoh utama dalam karya Jonas Jonasson melakukan perjalanan ekstrem. Melakukan hal-hal yang tidak biasa (bernegosiasi dengan pemimpin KorUt, menelpon kanselir Jerman,  ; mengendarai alat transportasi tak biasa (truk pengangkut kentang, balon udara, kapal selam); mengunjungi tempat tak biasa (pabrik nuklir, gurun dengan hanya belukar, perusahaan pembuat peti mati). Sungguh perjalanan ekstrem untuk dilakukan.

***

Rerata karya  Jonas Jonasson berkisar 380 halaman. Namun, membaca ratusan halaman karya beliau sungguh pengalaman sangat mendebarkan sekaligus menyegarkan. (RS)

***

 

 

Had posted on Kompasiana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...