Langsung ke konten utama

Roppan PTC

 

Roppan PTC (Dokpri.)

Discalimer: Foto ini diambil November tahun 2019

Ada beberapa outlet Roppan di kota kami. Naaaah, Roppan yang satu ini berada dalam sebuah mall. Letaknya di bagian depan, membuat pengunjungnya bisa melihat lalu lalang kendaraan yang melintas di bagian dalam kompleks mall tersebut.
 
Dinding kaca (Dokpri.)

Ada dinding kaca yang memisahkan bagian dalam dan bagian luar kedai ini. 
Pengunjung bisa saling mengamati, kalo mau.. 😁

Pintu kaca menuju bagian luar kedai (Dokpri.)

Roppan

Rak-rak kaca yang penuh roti berbagai bentuk dan ukuran bisa terlihat secara leluasa.

Begitu banyak pilihan, bikin aku dan Lince bolak balik lihat roti-roti tersebut dan papan yang menuliskan nama roti dan harganya.

Sebelum hidung kami makin kentara mengendus-endus aroma manis di udara dan air liur kami makin banyak, kami segera memilih beberapa. 😃



Roti dan Hazelnut Cinnamon (Dokpri.)
 
  
 
Hazelnut Cinnamon (Dokpri.)

Hazelnut Cinnamon

Aroma kayu manisnya menguarkan citarasa manis yang menyenangkan.
Menikmatinya dalam keadaan hangat sambil membaca adalah waktu-waktu yang sungguh cihuy.. hehehehe..

Alert!

Pandemi memang kelewatan! Sungguhan, ini! Setelah menyerbu ke banyak kota, dampaknya sungguh menyedihkan ke sektor perekonomian. Banyak usaha yang tutup.
Roppan PTC juga mengalami hal yang sama. Penutupan sementara selama beberapa waktu, sesuai kebijakan pemerintah. 

Setelah pemerintah mengizinkan pusat perbelanjaan dibuka untuk umum walaupun dengan banyak aturan, termasuk pengaturan jumlah pengunjung dan durasi buka mall; Roppan PTC tak lagi beroperasi.. 😔

Kangen menikmati roti manis dan kopinya..

***
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Puisi | Kecanduan Rasa Sepi

  Laki-laki itu berjalan sendiri melawan arus pejalan kaki. Menunduk dalam diam sambil memerintahkan arah yang dikehendakinya pada kakinya. Abai dengan tatap bingung sekitarnya. Hari-hari berjalan dalam gerak sederhana, hitam dan putih..   Perempuan itu berdiri sendiri di pinggir jembatan yang mulai lapuk di makan usia. Memandang kejauhan sambil mendendangkan lagu lawas dari waktu lampau yang terdengar di telinga. Acuh dengan tatap kasihan sekitarnya. Hari-hari bergerak dalam gerak sederhana, melembut dan melambat.   Mereka, pribadi-pribadi yang menikmati hidup dalam tenangnya angin.. Mereka, pribadi-pribadi yang merentang kenangan dalam sunyinya percakapan keluar.. Mereka, pribadi-pribadi yang terhibur dengan percakapan-percakapan monolog.. ..mereguk sepi laiknya candu. . . . . Laki-laki itu.. Perempuan itu.. Sekali lagi, dia duduk di sudut hatinya yang sepi.. ..dalam senandung sunyi yang digemakannya sendiri..   PS: Untuk...