Tapi, karena aku sangat menikmati berada di toko buku, maka aku segera saja merasa berbunga-bunga begitu melihat ada toko buku di drama-drama Korea.
Toko buku berikut yang muncul di drama Korea selama beberapa minggu terakhir adalah Good Night Bookstore di When the Weather is Fine dan Old Future Bookstore di Born Again.
Kesukaanku terhadap sudut-sudut di toko buku, rasanya dimulai ketika nonton film Nothing Hill puluhan tahun lalu… Hehehehe… 😀 Film yang dibintangi Julia Roberts dan Hugh Grant ini berkisah tentang pertemuan aktris terkenal dengan penggemarnya. Ada yang masih ingat?
Hugh Grant berperan sebagai pemilik toko buku di sebuah kota kecil. Toko buku yang dipenuhi jajaran rak dan buku, Buku-bukunya tersusun di rak-rak yang tingginya sampai ke langit-langit ruang. Barisan raknya yang rapi memudahkan pengunjung menjelajahi setiap pilihan bacaan dan judul. Lorong-lorong yang terbentuk dari barisan rak membuat bayang-bayang atas perjalanan imajinasi pada setiap buku yang dibaca. Sudut-sudut yang tak terlihat menawarkan tempat persembunyian sementara yang jelas mudah ditemukan. Namun, sesaat saja, rasanya seperti berada di tempat yang berbeda sekalipun sedang berpijak di dalam toko buku.
Ada juga toko buku yang menjual buku lawas dan atau karangan penulis besar abad sebelumnya yang sanggup memenuhi atmosfer toko buku dengan barisan cakrawala dan bentang panjang menjauh di abad-abad pertengahan ketika banyak kisah berhasil dituliskan.
Kesukaan ini disusul ketika muncul film Harry Potter di bioskop. Dalam banyak bagian adegannya selalu terdapat toko buku karena ada adegan anak-anak - terutama sekali Harry Potter, Hermione, Ron Weasley - membeli buku-buku bacaan sebelum masuk ke sekolah setiap awal tahun ajaran baru. Buku tebal dan tipis, besar dan kecil, penuh warna dan monokrom. Yang membuat istimewa adalah ada buku yang menemui pemiliknya, melayang-layang dengan riang menuju si pembeli.
Ada beberapa alasan mengapa aku sangat menyukai suasana toko buku dalam
1. Imajinasi tanpa batas
Barisan buku yang menolong imajinasi dan khayalan mengembara jauh, berjalan bersama tokoh-tokoh dalam buku. Jatuh cinta, terluka, bertualang dan menempuh perjalanan melewati banyak tempat bersisian dengan para tokoh utama cerita.
2. Ketenangan
Tenangnya toko buku tersebut sungguh meneduhkan hati. Seolah-olah di latar belakang ketenangan tersebut, berbaris komposisi klasik yang mengisi ruang tenang tersebut dengan alunan meneduhkan.
3. Melintasi ruang dan waktu
Bersama dengan penulis ikut melihat pemandangan, perasaan dan pikiran yang tertumpah dalam wujud literasi yang mengalun kepada pembaca. Melintasi ruang dan waktu sekalipun tidak beranjak kemana-mana.
Lalu, kenapa film dan atau sinetron kita sangat jarang menampilkan adegan yang berlokasi di toko buku kecil, ya?
Apakah kegiatan susun bukunya, susah? Atau, kita yang tidak pernah
tertarik berkunjung ke toko buku kecil, ya? Atau, malah akulah, yang tidak
tahu sama sekali jika film kita sudah menggunakan toko buku kecil? (RS)
***
Note:
This article had posted on Kompasiana
Komentar
Posting Komentar