One Little Thing Called Hope, Kejutan dalam Hidup
Ada begitu banyak kejutan dalam hidup. Rupa-rupa. Mama meninggal setelah menderita kanker selama beberapa tahun terakhir. Pindah sekolah di tengah semester. Orangtua menikah lagi. Patah hati. Tidak punya chemistry dengan gebetan. Kesulitan beradaptasi di sekolah baru. Memutuskan persahabatan. Kamar kerja ibu diubah jadi kamar tidur untuk orang lain. Tidak akur dengan saudara tiri. Es krim rum raisin. Alat tes kehamilan. Memiliki sahabat kecil. Theo. Antara cupcake, benang wol dan tas perca. Hamil, setelah melakukannya untuk kali pertama. Sixties. Menggugurkan kandungan. Sebuah kaus kaki rajut warna biru muda. Klinik aborsi. Dicampakkan. Belajar mobil tengah malam. Berhenti sekolah. Mimpi yang patah. Itulah yang dialami Aeryn dan Flo. Kejutan-kejutan dalam hidup Aeryn dan Flo di masa remaja mereka.
Aeryn tidak bisa menerima keputusan papanya yang menikah lagi dengan teman sekolahnya dulu; mamanya baru saja meninggal beberapa bulan sebelumnya. Penolakannya terhadap keputusan papanya tersebut termasuk mendorong jauh Flo, anak tante Hera, dari semua aspek hidup Aeryn. Di sisi lain, Flo menerima dengan gempita keputusan bundanya untuk menikah lagi. Adegan-adegan pertengkaran antara ayah dan bundanya, suara tangis bundanya dan kepergian ayahnya dari rumah adalah beberapa alasan mengapa Flo sangat berbahagia untuk bundanya. Tidak masalah pindah sekolah. Tak masalah berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Masalah terbesar Flo adalah Aeryn. Aeryn sangat tidak menyukai Flo dan bundanya. Sampai kemudian satu keadaan mengubah hubungan mereka berdua!
***
One Little Thing Called Hove karya Winna Efendi ini bercerita tentang keterguguan 3 remaja - Aeryn, Flo, Theo – ketika mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dan menjalani keadaan yang sangat sulit di usia yang belia. Berjuang keras untuk mengatasi rasa gugup, ketakutan, dan hal-hal baru dalam kehidupan sambil mencari makna kebahagiaan.
Dalam hubungan yang setahap demi setahap tumbuh, baiik karena kedekatan pun karena kebutuhan, Aeryn menjadi lebih lembut, Flo makin dewasa dan Theo. Theo masih tetap ada serta hadir bagi mereka berdua.
Dalam buku setebal 421 halaman, One Little Thing Called Hope menceritakan tentang:
Bertanggung jawab… dengan berani. Dalam kekalutan, Flo memilih bertanggung jawab meneruskan kehamilannya. Melakukannya, sudah salah. Namun keputusannya untuk mempertahankan kandungannya adalah keputusan yang sangat berani.
Melakukan percakapan-percakapan sulit. Mengakui bahwa telah melakukannya, sungguh membutuhkan keberanian ekstra. Sekalipun gentar, kesanggupan untuk jujur dan melakukan percakapan-percakapan sulit dengan bundanya menjadi bagian proses yang mendewasakan Flo.
Menjadi saudara dalam kesulitan. Belas kasih yang muncul perlahan dalam hati Aeryn pada Flo memberikan warna tersendiri pada hubungan dua saudara ini. Pada perasaan terdalam yang muncul kemudian, Aeryn belajar menjadi saudara bagi Flo.
Harapan… untuk semua. Dia yang datang kemudian. Ketika seolah tidak ada alasan untuk bertahan, harapan datang. Harapan untuk hari lebih berwarna dan bermakna. Harapan. HOPE.
***
Musik pada mix-tape. Berteman lagi. Boneka beruang pudar warnanya. Kotak surat. Melepaskan. Sherlock Holmes. Berduka lagi. Ruang rawat rumah sakit. Camilan tengah malam. Sup yang gosong. Berbagi kotak-kotak susu aneka rasa. Coklat panas. Bola-bola kaca. Pertandingan basket. Dapur yang baru. Brownies karamel. Pesan tak berbalas. Belajar bersama. Pelukan di bahu. Keputusan-keputusan besar. Bermimpi lagi.
Semua perasaan dan emosi yang muncul dan berdatangan pada usaha mereka untuk menjadi bahagia yang datang dari hal-hal kecil dan sederhana serta momen-momen bersama. Serta banyaknya adegan candid dalam gerak lambat.
Aeryn, Flo dan Theo masih terus menjalani hari-hari di masa remaja mereka. Kali ini ada Hope. Seseorang yang mengikat hidup dan hati mereka makin erat dan lekat.(RS)
***
Note:
Had posted on Kompasiana
Komentar
Posting Komentar