Tidak Ada yang Biasa Bagi Kembar Siam
One berkisah tentang Grace dan Tippi. Grace dan Tippi adalah sepasang kembar siam remaja yang berjuang menjalani keseharian dalam konteks normal yang bisa mereka pahami. Mereka berdua merupakan individu berbeda, yang ingin mencoba untuk tidak berbagi beberapa organ tubuh satu sama lain. Namun, hal tersebut tidak mungkin dilakukan! Kehidupan mereka menjadi serangkaian petualangan yang mendebarkan untuk dijalani.
***Grace & Tippi
Grace dan Tippi adalah kembar siam ischiopagus tripus, yang memiliki 2 kepala, 2 jantung, 2 paru-paru, 2 ginjal dan 4 buah tangan. Karena keadaan tubuh yang tidak normal, panggul yang menyatu, kehidupan kembar siam Grace dan Tippi tidak pernah mudah. Semua hal menjadi pengalaman pertama yang mendebarkan untuk mereka berdua.
Ketika donasi semakin menipis, orang tua Grace dan Tippy memutuskan menyekolahkan mereka berdua ke sekolah umum, Hornbeacon High. Grace dan Tippy pun mempersiapkan diri tidak lagi belajar secara home-schooling. Pada masa-masa transisi tersebut, kepanikan melanda seluruh anggota keluarga.
Grace dan Tippy memiliki adik bernama Nicola yang mereka panggil Dragon. Dragon sangat menyukai balet dan kadang merasa sangat bersalah untuk “kemewahan” bisa menari dibandingkan dengan 2 kakak kembarnya.
Namun, hidup terus berjalan. Kecintaannya kakak kembarnya terhadap Dragon, justru membakar tekad Dragon berlatih lebih keras lagi. Dan terus menularkan kecintaan tari pada kakak kembarnya.
Pribadi yang berbeda
Yang mungkin tidak disadari orang di sekeliling, anak-anak kembar identikpun sangat bisa memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda.
Karena Grace dan Tippy selalu bersama dalam melakukan apa pun, mereka tidak menyadari perbedaan mereka berdua. Sampai ketika mereka beraktifitas di luar rumah. Sampai mereka melakukan perjalanan bersama teman-teman dekat mereka ke tempat jauh. Grace dan Tippi menjadi tahu bahwa ada begitu banyak hal yang belum pernah terpikirkan untuk mereka lakukan, ada begitu banyak hal yang seharusnya bisa mereka lakukan, ada begitu banyak hal.
“Normal” itu apa?
Setiap orang mendefinisikan normal dengan apa yang sudah dijalani dan dialami dalam hidup masing-masing. Namun, bagi Tippi dan Grace, menjadi “normal” adalah bersekolah di sekolah publik sama seperti setiap teman yang sebaya dengan mereka.
Definisi normal bagi Grace danTippi tentu tidak sama dengan teman-teman sekolah mereka, bahkan sangat berbeda dengan adik mereka, Dragon.
Kehendak bebas.
Grace dan Tippi tidak memiliki kebebasan seperti anak-anak lain. Adalah mustahil jika Grace ingin ke suatu tempat tanpa mengajak Tippi. Juga, tidak mungkin Tippi ingin memiliki waktu sendiri tanpa mengajak Grace di sisinya.
“Menempel” satu sama satu membuat Tippi dan Grace tidak memiliki kehendak bebas atas anggota tubuh yang mereka gunakan bersama. Maka, jatuh cinta, memiliki kepribadian dan pemikiran berbeda adalah kemerdekaan atas kehendak bebas milik Grace dan Tippi.
Namun, setelah bertemu dengan teman-teman baru di sekolah, keinginan mencoba dan melakukan hal-hal baru menjadi tantangan tersendiri. Ketika Tippi dan Grace menyadari bahwa mereka berdua memiliki hal-hal yang sangat berbeda dalam hati dan pikiran mereka.
Ketika masih sekolah di rumah, mereka bisa sangat toleran dan pengertian satu sama lain. Tetapi keadaan menjadi sangat berbeda ketika di sekolah. Menuju ke arah yang berbeda menjadi ada dalam salah satu pilihan.
Akhirnya, dunia tahu!
Pihak televisi datang dan mendokumentasikan keseharian Grace dan Tippi. Akhirnya, dunia tahu!
Namun, hal tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa Grace akan selalu ikut ke manapun kaki Tippi melangkah, dan Tippi akan selalu ada di samping Grace.
Bedanya, semakin banyak orang mengetahui keadaan Grace dan Tippi, terlepas apakah mereka merasa kasihan ataupun peduli.
***
Membaca kehidupan sehari lepas sehari dengan segala dinamika yang dijalani Grace, Tippi dan keluarganya memberikan perspektif yang berwarna dari tepian sini. Ternyata, ada banyak kehidupan di luar sana yang tidak pernah mudah untuk dijalani. Bahkan kehidupan yang paling sulit untuk dijalanipun, toh tetap dijalani juga sekalipun dengan langkah lambat dan tertatih.
Grace ingin berpisah dengan Tippi!
Sekalipun akan menjalani operasi lebih dar 18 jam, sekalipun akan banyak keadaan yang terjadi saat proses operasi, sekalipun sangat berbahaya.
Bahkan sebelum operasi pun harus ada persiapan-persiapan tertentu pada tubuh mereka, terutama organ dalam tubuh dan kulit mereka.
Ketika keinginan Grace untuk berpisah dari Tippi terwujud dengan dilakukannya operasi pemisahan tubuh, salah satu diantara mereka akhirnya pergi. Dia, yang organ dalamnya bekerja 2x lipat dari sebelumnya, harus sangat kelelahan untuk menanggung kelemahan saudara-kembarnya. Pergi, meninggalkan mimpi menjadi orang yang bebas tanpa terhambat orang aktivitas kembarannya.
Sebelum operasi, kuku-kuku tangan Grace diberi kuteks berwarna merah supaya para dokter mengetahui bahwa jantung Grace bermasalah.
Setelah operasi, Grace menginginkan jantung Tippi ada dalam tubuhnya. Entah demi semua kenangan yang mereka alami dan bagi, entah demi persahabatan, entah demi persaudaraan mereka, entah demi janji yang jantung mereka ungkapkan satu dengan yang lain .
***
Bahwa kehendak, pikiran dan perasaan masing-masing orang tidak sama adalah hal yang sangat kita ketahui. Hal tersebut juga berlaku untuk orang-orang yang bersaudara, yang seibu dan seayah, yang saudara kandung. Hal itu juga berlaku pada saudara kembar, sekalipun individu-individu tersebut adalah kembar siam.
Namun pengakuan keberbedaan tersebut merupakan hal yang lain. Kita memang berbeda. Namun kasus kembar siam bisa membuat kita melihat “berbeda” dari perspektif yang berbeda pula. J
Pemisahan yang dilakukan terhadap kembar siam tidak pernah mudah untuk dihadapi pun dilakukan. Ungkapan hormat setinggi-tingginya untuk para dokter yang melakukan operasi tersebut, salut untuk para kembar siam di manapun berada dan apapun keadaannya. Kita memang tidak selalu mampu menghadapi kenyataan rumit dalam . Lahir kembar saja, sudah luar biasa. Kembar siam? Well.. Hal itu jelas petualangan sulit dan mendebarkan seumur hidup.
***
Had posted on Kompasiana
Komentar
Posting Komentar