Langsung ke konten utama

Buku #17 - I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki


 

Judul : I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Tahun terbit: 2018
Penulis: Baek Se Hee
Penerjemah: Hyacinta Louisa
Hal: 236 halaman, 19 cm
Penerbit: Haru
Tahun: 2019
 

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, Bertahan Menjadi Normal

Semakin hari, kata ‘depresi’ bukan lagi hal baru untuk diperbincangkan. Seolah-olah, kata depresi sama biasanya dengan mempercakapkan makanan favorit dan kedai kopi langganan. Apa penyebabnya? Bagaimana mengatasinya? Siapakah yang akan menjadi support system terbaik jika mengalaminya?

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah buku yang berisi percakapan penulis, Baek Se Hee dengan psikiaternya, ketika Se Hee menjalani konsultasi-konsultasi teratur  akibat distimia. Distimia adalah keadaan depresi berkepanjangan.

***

Selama lebih 10 tahun, Baek Se Hee mengidap distimia dan gangguan kecemasan. Setelah mencoba mengunjungi banyak psikolog dan psikiater, tahun 2017 Se Hee menemukan rumah-sakit yang cocok dan menjalani pengobatan.

Se Hee menjalani rutinitas biasa sampai kemudian menyadari bahwa hatinya kosong. Kekosongan tersebut diisi dengan melihat diri sendiri rendah dan orang lain lebih hebat. Hal-hal yang kemudian berdampak ke relasi sosialnya.

Psikiaternya meresepkan obat penenang untuk Se Hee. Namun, dampak dari obat penenang itupun dialami Se Hee. Salah satunya adalah akathisia; akathisia adalah suatu gejala tidak bisa diam.

Beberapa hal yang jadi catatan penting untuk diri sendiri setelah membaca buku ini adalah:

Berhenti melihat diri sendiri dari perspektif orang ketiga. Awalnya mungkin sekedar membandingkan diri dengan orang lain. Hanya sekedar. Tapi, lama kelamaan, kita bisa melihat diri sendiri dari perspektif orang lain. Orang lain yang bisa jadi standarnya tidak bisa kita penuhi. Lama-kelamaan, kita bisa frustasi pada diri sendiri, frustasi sendirian dan tidak lagi mengenal diri sendiri. Akhirnya, apa yang menjadi perkataan, pendapat dan pikiran orang lain menjadi lebih dominan dalam pikiran sendiri.

Menikmati kebebasan diri sendiri untuk berpikir. Kesadaran bahwa kita memiliki kebebasan untuk berpikir untuk dan tentang diri sendiri adalah penghiburan yang menghangatkan. Seberapa bebaskah, aku melihat diriku sendiri? Seberapa sering aku berpikir untuk diriku sendiri tanpa peduli apa yang orang lain pikirkan tentang aku? Mana yang terutama untukku, pikiranku tentangku atau pikiran mereka tentangku?

Berhenti menghukum diri sendiri. Standar yang kita bikin, acapkali menyulitkan kita untuk meraihnya. Alih-alih menyesuaikan diri, kita memaksakan diri. Dan, ketika hal itu terjadi, kita marah dan frustasi; pada keadaan lalu pada diri sendiri. Ego kita, kadang, lebih besar dari yang kita bayangkan. Ibarat gunung es. Kita menjadi pahit pada orang lain, karena sedang menghukum diri sendiri.

Pengakuan. Pengakuan memiliki kata dasar aku. Bukan kamu atau kami. Seberapa besar pengakuan orang lain bisa mempengaruhi prinsip kita sendiri? Atau seberapa besar pengakuan orang lain bisa mempengaruhi cara lihat kita terhadap diri sendiri?

Percaya diri vs ketulusan orang lain. Percaya dirilah. Kadang, rasa percaya diri mempengaruhi konsep kita tentang ketulusan orang lain. Jika hal tersebut bergantung padaku, percaya dirilah!

Belajar berempati. Alih-alih menghibur, belajarlah berempati. Mendengar sajalah. Tidak untuk memberi komentar maupun jawaban. Belajarlah berempati!

Menulis. Apa yang ditulis? Apa saja! Pikiran, perasaan, keadaan, kemarahan, kekecewaan dan apa penyebabnya. Bukan untuk mengurangi maknanya, namun sebagai proses untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Punya pertanyaan yang membingungkan? Tulis! Tulis saja!  Menulis adalah salah satu metode melihat diri secara keseluruhan.

***

Tteokpokki adalah penganan yang berbahan dasar beras. Camilan ini sering sekali muncul di drama-drama Korea. Jajanan kaki lima ini menjadi kesukaan banyak orang karena bisa dinikmati dengan cara masak berbeda, entah digoreng ataupun dijadikan sop. Sungguh menarik, betapa camilan ini bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan untuk Se Hee bertahan. Mungkin, kita juga bisa melihat hal-hal biasa dan sederhana di sekeliling kita untuk menemukan kebahagiaan dan sukacita sendiri.

Satu hal lagi, jika sedang mengalami kecemasan berlebih dan depresi, pastikan mencari bantuan profesional. (RS)

***

 

 Had posted on Kompasiana

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Buku #9 - Love Rosie (Where Rainbows End)

      Love, Rosie (dokpri.) Judul novel: Where Rainbows End  Tahun terbit: 2004 Penulis: Cecelia Ahern Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani Hal: 632 halaman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun: 2015   Love Rosie (Where Rainbows End) : Menjadi Sahabat Penamu Seumur Hidupku Aku masih ingat betapa membahagiakannya ketika mendapatkan surat dari seorang sahabat. Dulu. Dulu sekali. Entah kapan? Hehehehe… Novel Where Rainbow End telah difilmkan. Judulnya menjadi Love, Rosie. Film Love, Rosie sudah pernah kutonton bertahun-tahun lalu. Aku tidak menonton dari awal. Kemudian aku mendapatkan novel yang menjadi awal film tersebut dan menikmati persahabatan luar biasa antara Rosie Dunne dan Alex Stewart. Pertemanan yang dibangun sejak usia kanak-kanak, bersama-sama melewati masa remaja, saling mendukung di masa dewasa mereka dan terus saling menyayangi dalam segala musim kehidupan hingga melampaui usia separuh baya. *** Keluarga orangtua Rosie Dunne dan orangtua...