Please Look After Mom: Kumohon, Jagalah Ibu
Ibu menghilang! Dalam perjalanan orangtuanya ke Seoul, ibunya tertinggal dari langkah ayahnya yang di depan di stasiun Seoul. Sejak hari itu, hidup mereka seperti berada dalam mimpi buruk panjang yang tidak berakhir.
Menghubungi semua kerabat, melapor ke polisi, membuat selebaran dan membagikannya di jalan-jalan dekat rumah anak-anaknya di Seoul. Semua sudah mereka lakukan. Namun, ibu tidak juga kembali. Ke mana ibu pergi?
Buku ini berkisah tentang kenangan-kenangan yang datang pada anggota keluarga, setelah ibu menghilang. Mengambil perspektif orang kedua, penulis menuliskan karya ini seperti seseorang yang sedang berbicara kepada beberapa anggota keluarga tentang Park So-nyo, yang adalah ibu, mertua, ipar, istri mereka.
***
Para anggota keluarga yang kehilangan, baik anak-anak, para menantu, suami, ipar, menyadari betapa kehilangannya mereka terhadap sosok ibu dalam rumah dan hidup mereka. Ibu yang melakukan hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak; merawat keluarga, menanami tanah kecil di belakang ruma, memastikan anak-anak bisa bersekolah, menyediakan makanan hangat untuk ipar. Ibu, yang melakukan hal yang sama setiap hari tanpa menunjukkan muak; menyiapkan makanan hangat di atas meja, mempersiapkan anggota keluarga untuk musim selanjutnya, berhemat dengan beternak dan berladang.
Setelah anak-anak dewasa dan meninggalkan rumah, ibu tidak pernah lupa untuk menelpon anak-anaknya, sekalipun harus menumpang menelpon dan menerima telpon di rumah pak Kades. Pesannya selalu untuk anak-anaknya adalah makan teratur dan bertahan hidup.
Aku rasa, pesan penting itu berasal dari kehidupannya sendiri, yang dijalani sambil terus merawat keluarganya. Dia menjalaninya dengan baik, sekalipun baru terasa setelah sosoknya menghilang dan tidak ditemukan.
***
Dalam kenangan anak pertama, hilangnya ibu memicu berbagai peristiwa dalam ingatan Hyong-chol, momen-momen tertentu, seperti pintu yang dihiasi daun maple itu, yang semula dia pikir telah terlupa dari ingatan. Bagaimana ibunya memastikan rumah bisa bertahan pada musim dingin dan tubuh-tubuh mereka tetap hangat.
Sebagai anak yang pertama kali merantau ke Seoul, Hyong-chol menjalani beberapa tempat kerja dan rumah sewa. Setiap tempat tersebut sudah pernah didatangi ibunya. Hyong-chol mendatangi tempat-tempat tersebut dan tetap tidak bisa menemukan ibunya, sekalipun beberapa orang melihat ada seorang ibu sepuh seperti yang digambarkan Hyong-chol.
Waktu terus berjalan dan ibu mereka masih juga belum ditemukan.
Bukan hanya Hyong-chol, buku ini juga menuliskan kenangan anak-anak yang lain tentang Park So-nyo. Dan, rasanya sangat menyedihkan dan memilukan. Kehilangan dan rindu terhadap ibu mereka sungguh menyesakkan.
Berbicara tentang hari-hari lalu
Karena ibu merawat yang sakit, seolah-olah ibu tidak bisa sakit. Tubuh ibu terlatih untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya.
Sepasang tangan yang bisa memelihara kehidupan.
Kebiasaan, kadang kala bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Terutama kebiasaan untuk berjalan di depan dalam tahun-tahun pernikahan yang panjang, mula-mula sewaktu masih muda, lalu setelah beranjak tua, selama 50 tahun. Hal itu adalah salah satu penyesalan sang suami atas hilangnya istrinya.
Park So-nyo, ibu dan istri yang menjadi rumah; ibu yang menjadi rumah bagi anak-anaknya dan istri yang menjadi rumah bagi suaminya. Rumah yang terasa hidup karena ada penghuninya. Rumah, yang lambat laun, akan menjadi serupa dengan penghuninya..
Mereka menceritakan hari-hari yang telah lalu dan menyadari bahwa ibu adalah seorang pribadi yang menempati bagian paling besar dalam hidup dan ingatan.
Anak-anaknya mungkin tidak mengira memilki momen-momen pribadi dengan ibu mereka. Namun, hari-hari ketika ibu mereka tidak ada, hilang; entah bagaimana kejadian-kejadian tertentu bersama ibu bahkan ketika mereka masih kecil pun remaja, datang dan hadir.
Pernahkah kau berpikir bagaimana orang-orang terdekatmu menjalani hari-hari mereka?
Pernahkah kau berpikir bagaimana ibumu menjalani hari-harinya? Hari-hari ketika anak-anaknya masih berada di sekelilingnya? Hari-hari ketika anak-anaknya beranjak remaja dan dewasa? Hari-hari ketika anak-anaknya mennggalkan rumah dan menjalani kehidupan mereka sendiri? Bagaimanakah ibumu menjalani hari-harinya di masa tuanya?
Pernahkah kau berpikir bagaimana ibumu menjalani hari-harinya, ketika kau sudah beranjak dewasa dan memiliki keluarga?
***
Setelah membaca kalimat terakhir buku ini, aku menyadari ada ruang yang kosong dalam hatiku. Ruang yang ditinggalkan. Ruang yang seolah ada pemiliknya, namun pemiliknya masih belum pulang. Dan aku merasa ngeri mengalami perasaan tersebut. Dan hadirnya perasaan-perasaan lain yang menimbulkan perasaan terpuruk tak berkesudahan. Jika ada buku yang memaparkan dengan baik tentang ibu, buku ini - Ibu Tercinta - adalah salah satunya. (RS)
***
Had posted on Kompasiana
Komentar
Posting Komentar