Langsung ke konten utama

Buku #18 - Please Look After Mom

Please Look After Mom (dokpri.)

 

Judul : Please Look After Mom (Ibu Tercinta)
Tahun terbit: 2008
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Hal: 296 halaman, 20 cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011

 

Please Look After Mom: Kumohon, Jagalah Ibu

Ibu menghilang! Dalam perjalanan orangtuanya ke Seoul, ibunya tertinggal dari langkah ayahnya yang di depan di stasiun Seoul. Sejak hari itu, hidup mereka seperti berada dalam mimpi buruk panjang yang tidak berakhir.

Menghubungi semua kerabat, melapor ke polisi, membuat selebaran dan membagikannya di jalan-jalan dekat rumah anak-anaknya di Seoul. Semua sudah mereka lakukan. Namun, ibu tidak juga kembali. Ke mana ibu pergi?

 

Buku ini berkisah tentang kenangan-kenangan yang datang pada anggota keluarga, setelah ibu menghilang. Mengambil perspektif orang kedua, penulis menuliskan karya ini seperti seseorang yang sedang berbicara kepada beberapa anggota keluarga tentang Park So-nyo, yang adalah ibu, mertua, ipar, istri mereka.

***

Para anggota keluarga yang kehilangan, baik anak-anak, para menantu, suami, ipar, menyadari betapa kehilangannya mereka terhadap sosok ibu dalam rumah dan hidup mereka. Ibu yang melakukan hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak; merawat keluarga, menanami tanah kecil di belakang ruma, memastikan anak-anak bisa bersekolah, menyediakan makanan hangat untuk ipar. Ibu, yang melakukan hal yang sama setiap hari tanpa menunjukkan muak; menyiapkan makanan hangat di atas meja, mempersiapkan anggota keluarga untuk musim selanjutnya, berhemat dengan beternak dan berladang.

Setelah anak-anak dewasa dan meninggalkan rumah, ibu tidak pernah lupa untuk menelpon anak-anaknya, sekalipun harus menumpang menelpon dan menerima telpon di rumah pak Kades. Pesannya selalu untuk anak-anaknya adalah makan teratur dan bertahan hidup.

Aku rasa, pesan penting itu berasal dari kehidupannya sendiri, yang dijalani sambil terus merawat keluarganya. Dia menjalaninya dengan baik, sekalipun baru terasa setelah sosoknya menghilang dan tidak ditemukan.

***

Dalam kenangan anak pertama, hilangnya ibu memicu berbagai peristiwa dalam ingatan Hyong-chol, momen-momen tertentu, seperti pintu yang dihiasi daun maple itu, yang semula dia pikir telah terlupa dari ingatan. Bagaimana ibunya memastikan rumah bisa bertahan pada musim dingin dan tubuh-tubuh mereka tetap hangat.

Sebagai anak yang pertama kali merantau ke Seoul, Hyong-chol menjalani beberapa tempat kerja dan rumah sewa. Setiap tempat tersebut sudah pernah didatangi ibunya. Hyong-chol mendatangi tempat-tempat tersebut dan tetap tidak bisa menemukan ibunya, sekalipun beberapa orang melihat ada seorang ibu sepuh seperti yang digambarkan Hyong-chol.

Waktu terus berjalan dan ibu mereka masih juga belum ditemukan.

Bukan hanya Hyong-chol, buku ini juga menuliskan kenangan anak-anak yang lain tentang Park So-nyo. Dan, rasanya sangat menyedihkan dan memilukan. Kehilangan dan rindu terhadap ibu  mereka sungguh menyesakkan.

 

Berbicara tentang hari-hari lalu

Karena ibu merawat yang sakit, seolah-olah ibu tidak bisa sakit. Tubuh ibu terlatih untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya.

Sepasang tangan yang bisa memelihara kehidupan.

Kebiasaan, kadang kala bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Terutama kebiasaan untuk berjalan di depan dalam tahun-tahun pernikahan yang panjang, mula-mula sewaktu masih muda, lalu setelah beranjak tua, selama 50 tahun. Hal itu adalah salah satu penyesalan sang suami atas hilangnya istrinya.

Park So-nyo, ibu dan istri yang menjadi rumah; ibu yang menjadi rumah bagi anak-anaknya dan istri yang menjadi rumah bagi suaminya. Rumah yang terasa hidup karena ada penghuninya. Rumah, yang lambat laun, akan menjadi serupa dengan penghuninya..

Mereka menceritakan hari-hari yang telah lalu dan menyadari bahwa ibu adalah seorang pribadi yang menempati bagian paling besar dalam hidup dan ingatan.

Anak-anaknya mungkin tidak mengira memilki momen-momen pribadi dengan ibu mereka. Namun, hari-hari ketika ibu mereka tidak ada, hilang; entah bagaimana kejadian-kejadian tertentu bersama ibu bahkan ketika mereka masih kecil pun remaja, datang dan hadir.

Pernahkah kau berpikir bagaimana orang-orang terdekatmu menjalani hari-hari mereka?

Pernahkah kau berpikir bagaimana ibumu menjalani hari-harinya? Hari-hari ketika anak-anaknya masih berada di sekelilingnya? Hari-hari ketika anak-anaknya beranjak remaja dan dewasa? Hari-hari ketika anak-anaknya mennggalkan rumah dan menjalani kehidupan mereka sendiri? Bagaimanakah ibumu menjalani hari-harinya di masa tuanya?

Pernahkah kau berpikir bagaimana ibumu menjalani hari-harinya, ketika kau sudah beranjak dewasa dan memiliki keluarga?

***

Setelah membaca kalimat terakhir buku ini, aku menyadari ada ruang yang kosong dalam hatiku. Ruang yang ditinggalkan. Ruang yang seolah ada pemiliknya, namun pemiliknya masih belum pulang. Dan aku merasa ngeri mengalami perasaan tersebut. Dan hadirnya perasaan-perasaan lain yang menimbulkan perasaan terpuruk tak berkesudahan. Jika ada buku yang memaparkan dengan baik tentang ibu, buku ini - Ibu Tercinta - adalah salah satunya. (RS)

***

 

Had posted on Kompasiana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Buku #9 - Love Rosie (Where Rainbows End)

      Love, Rosie (dokpri.) Judul novel: Where Rainbows End  Tahun terbit: 2004 Penulis: Cecelia Ahern Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani Hal: 632 halaman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun: 2015   Love Rosie (Where Rainbows End) : Menjadi Sahabat Penamu Seumur Hidupku Aku masih ingat betapa membahagiakannya ketika mendapatkan surat dari seorang sahabat. Dulu. Dulu sekali. Entah kapan? Hehehehe… Novel Where Rainbow End telah difilmkan. Judulnya menjadi Love, Rosie. Film Love, Rosie sudah pernah kutonton bertahun-tahun lalu. Aku tidak menonton dari awal. Kemudian aku mendapatkan novel yang menjadi awal film tersebut dan menikmati persahabatan luar biasa antara Rosie Dunne dan Alex Stewart. Pertemanan yang dibangun sejak usia kanak-kanak, bersama-sama melewati masa remaja, saling mendukung di masa dewasa mereka dan terus saling menyayangi dalam segala musim kehidupan hingga melampaui usia separuh baya. *** Keluarga orangtua Rosie Dunne dan orangtua...