Langsung ke konten utama

Buku #20 - Potret

Potret. Dokpri.

Judul: Potret
Karya: Aditia Yudis
Hal.: vi + 386 halaman
Penerbit: Mediakita
Tahun: 2017
 
 

Potret: Taruhan Terakhir

Jika ada keluarga konglomerat tertentu yang anak-anaknya – generasi ke-2 dan atau generasi ke-3 – berseteru  memperebutkan harta warisan, perseteruan tersebut biasanya diantara anak-anaknya. Namun, dalam buku Potret, tulisan Aditia Yudis, ini beda! Anak-anak konglomerat tersebut justru hendak menjaga harta mereka dari ayah mereka. Ini tentang anak-anak versus ayah mereka!


Menantu keluarga konglomerat

Lalu, apa jadinya jika seorang yang tidak dikenal menjadi menantu keluarga ini?

Tatyana memutuskan menerima tawaran Saddam untuk menikahinya, setelah kekasih Tatyana memutuskan untuk tidak menceraikan istrinya. Sejak saat itulah Saddam mulai mengenalkan Tatyana pada saudara-saudaranya yang lain, juga mengenalkan betapa peliknya menjadi bagian dari keluarga konglomerat.

Dengan rambut diwarnai hijau, Tatyana melalui hari-hari perkenalan – yang lebih mirip dengan perploncoan – dengan saudara-saudari Saddam. Saddam adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara. Namun, Saddam memiliki juga saudara-saudara lain; Saddam memiliki 4 orang ibu; yang masih saling berhubungan, sekalipun tidak selalu sepakat dan karib.

Tatyana datang dengan kemampuan bermain caturnya yang memukau Saddam, dan juga beberapa saudara Saddam yang lain. Sekalipun menghadapi ketidaksetujuan beberapa saudara Saddam, Tatyana bertekad meneruskan langkahnya, seperti langkah pion yang bergerak pelan menuju ujung jalan sebelum berganti bentuk menjadi menteri! Sejak saat itu, mereka berharap kemampuan Tatyana bisa mengalahkan kemampuan Hartono; dalam strategi dan taktik.

 

Catur sejak dini

Hartono, seorang hartawan , memiliki 10 orang anak dari 4 orang istri. Anak-anaknya dididik sejak dini untuk terlibat dalam bisnis keluarga. Sebelum umur 10 tahun, semua sudah dikenalkan pada permainan catur. Menyusun strategi, mengenali langkah lawan, mengambil langkah berani dan menaklukkan lawan, sudah menjadi latihan mereka dalam permainan catur.

Selanjutnya, dalam dunia bisnis, langkah-langkah tersebut menolong mereka melakukan ekspansi bisnis yang luar biasa, mengenali lawan-lawan bisnis mereka. Namun, tidak berarti mereka selalu memenangkan tender ataupun proyek.

 Sama seperti berbisnis, Hartono memelihara hubungannya dengan anak-anaknya seperti dengan rekan bisnis. Jika anak-anaknya tidak memberikan keuntungan dan kontribusi besar pada perusahaan keluarga maka anak-anaknya diminta meninggalkan rumah dan menyerahkan semua kemudahan keuangan.

Hartono belum memutuskan akan mewariskan beberapa perusahaan keluarga pada anak-anaknya yang mana. Sekalipun demikian, ada anaknya yang memutuskan keluar dari perusahaan keluarga dan merintis perusahaan sendiri. Pun demikian, perebutan perusahaan keluarga bukan antara anak-anak, namun antara anak-anak dan ayahnya.

 

Transaksional

Hubungan yang saling menguntungkan, antara dua belah pihak, menjadi hal yang paling banyak dicari. Hubungan bisnis, pun relasi pribadi baik hubungan keluarga maupun hubungan kasih. Apakah ada batasnya? Sampai di mana, jika ada batasnya?

Tentang Potret, konflik ayah dan anak-anak dalam sebuah keluarga besar yang pengusaha tentu saja tidak mudah ditampik. Adanya tawaran-tawaran dan pertukaran-pertukaran pun terjadi. Bisa jadi, ada banyak keluarga di luar sana, yang menjaga dan memelihara hubungan keluarga secara transaksional.

***

Kesulitan yang dihadapi Tatyana bukan hanya menghadapi satu per satu saudara Saddam dan mengenal mereka secara pribadi. Menaklukkan ketidaksetujuan mereka, dilibatkan dalam konflik antar saudara dan menjadi sahabat mereka lebih dekat adalah langkah lain yang dilakukan Tatyana. Namun, Tatyana harus menghadapi juga masa lalu Saddam. Apa alasan Tatyana menempuh jalan begitu sulit? Apakah Tatyana sudah jatuh cinta pada Saddam? Apakah perkenalan yang singkat bisa menghasilkan cinta yang kuat begini, menaklukkan keluarga dan memenangkan hati calon ayah mertua?

 ***

 

Had posted on Kompasiana


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-buku Baru Sebelum Susun Daftar Baca Baru

  Aku tidak berencana beli buku dulu sampai ahir tahun. Tumpukan buku yang merupakan daftar baca dan masuk daftar baca sejak awal tahun, masih ada. Masih belum rampug baca sekalipun sudah berlalu 10 bulan. Sebagian besar dari buku-buku itu malah baru dibaca separuhnya. Ada yang baru seperempat bagian buku. Ada juga baru beberapa halaman. Masih cukup untuk dibaca sampai akhir tahun. Namun, kemungkinan beli buku di tahun ini tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, aku memutuskan mampir ke toko buku dan beli beberapa buku. Mumpung masih ada bazaar buku. Setelah mengunjungi 2 toko buku besar, berkeliling diantara tumpukan buku, akhirnya aku mengambil 8 buku setelah memilih diantara buku-buku lain yang juga berencana akan dibawa pulang. Delapan buku tersebut, antara lain: Selamat Malam untuk Presiden , Peyempuan Nelangsa , Potret , Ompung Odong-odong , Q & A, Kedai 1002 Mimpi , Apres Le Mariage , Travel Young . Biasanya, buku baru baru akan mendapat giliran dibaca setelah buk...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Buku #9 - Love Rosie (Where Rainbows End)

      Love, Rosie (dokpri.) Judul novel: Where Rainbows End  Tahun terbit: 2004 Penulis: Cecelia Ahern Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani Hal: 632 halaman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun: 2015   Love Rosie (Where Rainbows End) : Menjadi Sahabat Penamu Seumur Hidupku Aku masih ingat betapa membahagiakannya ketika mendapatkan surat dari seorang sahabat. Dulu. Dulu sekali. Entah kapan? Hehehehe… Novel Where Rainbow End telah difilmkan. Judulnya menjadi Love, Rosie. Film Love, Rosie sudah pernah kutonton bertahun-tahun lalu. Aku tidak menonton dari awal. Kemudian aku mendapatkan novel yang menjadi awal film tersebut dan menikmati persahabatan luar biasa antara Rosie Dunne dan Alex Stewart. Pertemanan yang dibangun sejak usia kanak-kanak, bersama-sama melewati masa remaja, saling mendukung di masa dewasa mereka dan terus saling menyayangi dalam segala musim kehidupan hingga melampaui usia separuh baya. *** Keluarga orangtua Rosie Dunne dan orangtua...