Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

5 Hal yang Menjadi Kekhasan karya-karya Jonas Jonasson

  Beberapa tahun terakhir, jumlah buku terjemahan dari berbagai bahasa, penulis dari berbagai Negara dan berbagai genre mengisi rak-rak toko buku. Pilihan yang semakin banyak ini tentu saja semakin menambah pilihan bacaan dan tambahan literasi di rumah. Jonas Jonasson adalah penulis Swedia yang karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa karyanya yang sudah kubaca antara lain The Girl who Saved the King of Sweden ; The Hundred-Year-Old Man who Climbed Out the Window and Dissapeared dan The Accidental Further Adventures of the 100-Year-Old Man . Sejauh ini, ada beberapa hal yang muncul dan tampaknya bisa saja menjari kekhasan Jonasson bertutur. Hal-hal tersebut antara lain: Orang-orang tidak biasa . Pada The Hundred-Year-Old Man who Climbed Out the Window and Dissapeared dan The Accidental Further Adventures of the 100-Year-Old Man tokoh utamanya adalah seorang kakek berumur sangat tua, 100 tahun. Usia yang sangat tidak biasa untuk melakukan pe...

Beskabean Lemabang

  Beskabean Lemabang ( Dokpri. ) Disclaimer : Foto-foto diambil pada awal Januari 2020. Ketika berdiri di depan sebuah pusat perbelanjaan di wilayah Lemabang, aku melihat sebuah bangunan kecil berada di sebuah halaman rumah dengan pagar rendah yang terbuka. Bentuk rumah lawas di sebrang sana sungguh menarik perhatian.  Di hadapan bangunan tersebut diletakkan beberapa meja dan kursi. Lampu-lampu masih belum dinyalakan. Sore sudah turun.  Sebrang jalan ( Dokpri .) Beskabean Lemabang Daftar menu terlihat dengan paduan warna kontras.. 😉 Aku terlihat asing. Well, kali pertama ke sini, aku ke Beskabean Lemabang.. Itupun setelah mengecek kedai kopi di sekitaran tempat kerja.. Duduk dengan tenang setelah memesan minuman, aku mengeluarkan buku yang masih belum selesai baca. Jalanan yang sibuk dengan kendaraan mengantarkan orang-orang yang baru pulang. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Tersisa bintang yang masih belum tampak. 😘 Kopi dan buku ( Dokpri .) Matcha coffee ( Dokpri .) A fe...

Puisi | Kita Masih Akan di Sini

  Kita masih di sini ketika matahari beranjak pulang. Kita masih di sini ketika pendar-pendar jingga penuhi cakrawala di bagian barat Bumi. Kita masih di sini ketika bintang-bintang bersiap-siap dansa di langit cerah   Dalam banyak hari, bersama-sama kita menyaksikan… …langit menceritakan banyak kisah cinta mengagumkan. …hujan menyanyikan kisah cinta yang diceritakan langit.   Dan, kita masih di sini... untuk terus mengisi ruang hati kita dengan gema tawa kita... untuk memenuhi langit-langit ruang dengan lelucon konyol yang hanya kita yang mengerti. Demi senyum mereka, orang-orang yang peduli pada kita.. Demi senyum kita, kala mengingat peristiwa ini kelak..   Namun,, waktu-waktu seperti itu akan tiada. Hari-hari kemaren, yang berhembus dengan cepat dan menghilang. Hari-hari lalu menyisakan ingatan untuk dikenang.   Dalam sekejap, kau tidak lagi di sini.. Dalam sekejap, kau menuju daerah yang lebih dekat dengan cahaya mataha...

Sulitnya Menyelesaikan Daftar Baca Buku

    Daftar baca buku ( Dokpri. ) Setiap awal minggu, aku menuliskan daftar bacaan selama   seminggu berjalan. Seenggaknya ada sekian judul buku diletakkan pada   tumpukan buku sesuai dengan daftar buku yang akan dibaca dalam   seminggu.. Tapi, selalu lebih gampang menumpuk buku-buku tersebut daripada menyelesaikan daftar baca.. Salah satu alasan yang paling sering muncul ketika tiba waktu membaca   adalah, "besok saja dilanjutkan bacanya." Padahal, hari ini pun belum   ada dari daftar baca yang dibaca.. Hehehehe.. Ada yang pernah bertanya, bagaimana caranya aku punya kebiasaan membaca akut.. Eh?   Caranya, seh, sederhana.. Mulailah dari halaman pertama. Mulailah membaca 2 halaman setiap hari..   Lalu tingkatkan menjadi 5 menit baca. Dua bab. 10 menit. 30 menit.   Lakukan setahap demi setahap. Tidak ada perubahan yang tidak disertai usaha, tekad dan langkah-langkah kecil sederhana . Salah seorang karib memiliki passion men...

Roppan PTC

    Roppan PTC (Dokpri.) Discalimer : Foto ini diambil  November tahun 2019 Ada beberapa outlet Roppan di kota kami. Naaaah, Roppan yang satu ini berada dalam sebuah mall. Letaknya di bagian depan, membuat pengunjungnya bisa melihat lalu lalang kendaraan yang melintas di bagian dalam kompleks mall tersebut.   Dinding kaca (Dokpri.) Ada dinding kaca yang memisahkan bagian dalam dan bagian luar kedai ini.  Pengunjung bisa saling mengamati, kalo mau.. 😁 Pintu kaca menuju bagian luar kedai (Dokpri.) Roppan Rak-rak kaca yang penuh roti berbagai bentuk dan ukuran bisa terlihat secara leluasa. Begitu banyak pilihan, bikin aku dan Lince bolak balik lihat roti-roti tersebut dan papan yang menuliskan nama roti dan harganya. Sebelum hidung kami makin kentara mengendus-endus aroma manis di udara dan air liur kami makin banyak, kami segera memilih beberapa. 😃 Roti dan Hazelnut Cinnamon (Dokpri.)        Hazelnut Cinnamon (Dokpri.) Hazelnut Cinnamon ...

Cerpen | Matahari Sore, Langit Abuabu-nya Tulus dan Ponsel yang Ketinggalan

Kami baru saja meninggalkan kedai kopi sejauh 50 meter, ketika hangatnya matahari sore masuk ruang pandang kami. Aku tersenyum tenang sambil memejamkan mata. Selalu suka hangat matahari jam 4 – 5 sore. Hangat yang selalu bisa menerbitkan senyum. Lamat-lamat terdengar suara Tulus. Memenuhi ruang dengar kami. Memenuhi indra kami. Langit Abu-abu. Aku suka lagu-lagu Tulus. Monokrom, Sewindu, Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Gajah, Manusia Kuat, Ruang Sendiri, 1000 Tahun. Rasa-rasanya bukan hanya lagunya, suara Tulus juga. Aku suka suara Tulus, apa pun lagu yang dinyanyikan. Suaranya seolah membawa aku ke tempat yang berbeda, berkelana ke pengalaman berbeda. Mobil membelok ke kanan, menyusuri jalan raya yang dipenuhi kesibukan sore di suatu Minggu yang cerah. Matahari sore ada di belakang kami, kini. Hangat merayap di punggung kami. Suara Tulus membuai kami. Cerahnya langit yang birunya lebih biru dari biasanya, awan awan yang bergerak dari tepian, udara yang bersahaja dan kami yang tetap ...